Nihilisme

Manusia itu binatang pemuja sekaligus binatang pencuriga, manusia dalam hidup ini selalu membutuhkan sesuatu untuk dipuja dan diidealkan, misalnya : orang beragama butuh untuk percaya bahwa dunia ini baik bahwa semuanya ini baik, itu menjadi kepercayaan dan pegangan bagi orang yang beragama sebagai kekuatan untuk berjuang.

Tetapi manusia juga binatang pencuriga, ketika kita melihat misalnya : “Wah, nyatanya agama hanya membuat orang perang” dan sebagainya …

Lalu dari kecurigaan-kecurigaan tersebut, manusia justru akan menghancurkan apa yang ia puja sendiri.

Manusia adalah binatang yang suka memuja secara berlebihan terhadap dunia, padahal dunia tidak bisa dikonsepkan. Dunia adalah campur aduk abisal, sebuah campur aduk yang sama sekali tidak bisa disatukan.

Karena manusia cenderung memuja, lalu merasa kecewa dengan pujaannya dan akhirnya manusia akan masuk pada tahap yang disebut dengan “mencurigai”. Pada tahap tersebutlah manusia masuk dalam apa yang disebut dengan Nihilisme, dan ketika manusia masuk dalam Nihilisme karena rasa kecewa dengan pujaan-pujaannya, maka manusia masuk dalam Nihilisme dengan pesimisme.

Manusia seakan menjadi kecewa, kecewa berat …, seakan dunia ini tidak bermakna karena semula manusia terlalu memberi makna, terlalu percaya pada awalnya.

Kekecewaan kaum pesimis adalah kekecewaan atas bayangan ideal yang semula dianggap ada ternyata tidak ada, penghilangan pujaan ideal dengan demikian adalah nihilisasi diri sendiri. Apakah manusia melawan dirinya sendiri? Menghancurkan yang ideal itu berarti bukankah kita sedang menghancurkan diri kita sendiri yang sebenarnya kita pernah membutuhkannya untuk bertahan hidup?

Kalau kita sungguh percaya pada rasio, kita sungguh percaya pada Tuhan, lalu kita tahu bahwa itu semua ternyata kosong, bukankah sebenarnya kita sedang menghancurkan diri kita? Karena terlalu lama kita berpegang padanya, karena sudah lama kita hidup berkat apa yang kita percayai itu.

Ada dua dua macam nihilisme yaitu nihilisme pasif dan nihilisme aktif.

Nihilisme pasif adalah nihilisme kecapekan, ketika kita menemukan bahwa Tuhan ideal yang selama ini kita puja ternyata adalah kekosongan belaka, lalu kita kaget bahwa ternyata kita selama ini hanya memuja kekosongan dan ternyata dunia ini tanpa makna, lalu kita menjadi merasakan “kelelahan yang mematikan” seperti masuk dalam keloyoan yang kita tidak mengerti lagi apa yang harus dibuat karena apa yang kita percayai selama ini telah runtuh.

Namun, ada juga yang namanya Nihilisme aktif yang artinya ketika orang menyadari kekosongan dibalik dunia idea lalu menerima kekosongan itu, dan dari kekosongan tersebut manusia mampu mengafirmasi sesuatu, menyerang kekosongan itu, menyerang dalam arti “Menyerang pada peperangan yang tidak mencari kemenangan tetapi peperangan untuk menguatkan diri”. Dalam kekosongan tersebut, manusia masih mampu menyusun tujuan-tujuan sementara karena manusia itu tahu bahwa apa yang namanaya tujuan, nilai itu semua hanyalah ilusi yang berguna bagi hidup, tetapi tidak sekaligus hanya berhenti dalam mencari kegunaan.

Ilusi, samaran, selubung diterima sekaligus disadari sebagai “sementara”. Dalam gerak meng-iyai permukaan, ilusi dan menerima wujud-wujud baru dari kedalaman seperti itulah seorang nihilis aktif akan menari.

Nihilisme aktif adalah figur untuk manusia yang melampaui, yang berhadapan dalam era tiadanya nilai , tiadanya Tuhan, namun dia tidak lantas terserak dan menjadi capek. Tetapi ia mampu menghadapi itu, dia tetap hidup, membuat tujuan-tujuan meskipun dia tahu bahwa tujuan yang ia buat adalah sementara dan tidak berpegang pada hasil-hasil yang ia capai karena dia tahu bahwa hasil yang dia buat sifatnya hanya sementara.

Lalu bagaimana kita bisa bersikap mengahadapi nihilisme kekosongan ini?

Hancurnya pegangan, hancurnya Fix Idea, hancurnya Tuhan itu membuka samudera baru yang samar-samar, yang tidak jelas, yang menantang karena kita akan melayari lautan bebas, lautan yang dapat dikatakan sebagai “monster”.

Ketakterbatasan Sebagai Horizon

Kita telah meninggalkan daratan (kita telah meninggalkan fix idea, Tuhan, rasio, konsep)

            Kita semua sudah berangkat …

Kita telah menghancurkan jembatan-jembatan

Terlebih lagi daratan di belakang telah kita tinggalkan

Oleh karena itu sejak sekarang, Hei kapal kecil! Waspadalah!

Di kanan kirimu terbentang luas samudera,

Memang samudera tidak selalu bergelombang ganas

Kadang-kadang ia membentang bak sutera dan emas

Seperti impian akan kebaikan

Tetapi akan tiba waktunya saat-saat kamu mengakui bahwa samudera itu tanpa batas

Dan tak ada sesuatu pun yang lebih menakutkan daripada ketakterbatasan

Oh burung malang yang merasa diri bebas yang akhirnya menabrak kisi-kisi sangkar yang sama juga

Sial lah engkau jika kerinduan kampung halaman menjeratmu seakan-akan disana dulu ada lebih kebebasan, padahal daratan sudah tidak ada lagi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s