3 Hal yang didapatkan dari Touring menggunakan Sepeda Motor

DSC00337.JPG

Banyak orang takut untuk berpergian jauh dengan sepeda motor. Atas alasan keselamatan, orang-orang biasanya memilih untuk menumpang kendaraan umum atau membatalkan rencana travelling nya. Padahal ada beberapa hal yang nggak bisa dilupain dari touring dengan menggunakan sepeda motor 🙂

Saya akan berbagi beberapa hal yang  saya dapatkan ketika melakukan perjalanan jarak jauh dengan sepeda motor bebek, meskipun selama ini saya hanya menempuh Bandung-Yogyakarta pulang-pergi dengan intesitasnya yang cukup sering.

1. Kepuasaan Batin
Ketika kita sampai di tujuan, kita akan merasa puas. Karena mengendarai sepeda motor untuk perjalanan jarak jauh dibutuhkan keberanian, kesabaran dan sikap waspada yang ekstra hati-hati.

Pengalaman tersulit saya mungkin ketika berpergian jarak jauh dengan mengendarai motor bebek dari Bandung ke Jogja dalam kondisi hujan lebat yang terus menerus tanpa henti.

Belum lagi kilat dan petir menyambar ketika saya melewati area persawahan di daerah pinggiran Cilacap selepas Banjar Patroman, Jawa Barat. Saya harus melindungi tas yang berisi laptop agar tidak basah terguyur air hujan dan harus “Bersilat-Ria”, menghindari jalanan aspal yang hancur demi menjaga keutuhan barang bawaan.

Tentu bagi orang seperti saya yang mulanya lebih suka duduk manis di depan laptop dan menonton film, hal tersebut merupakan pengalaman sekaligus tempaan yang begitu berarti.

Dan ketika saya berhasil memasuki pintu perbatasan Jawa Tengah dan DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) ada perasaan yang begitu mendalam, saya bangga atas diri saya sendiri yang sebelum-sebelumnya saya tidak pernah merasakan perasaan itu dan cenderung meragukan diri saya sendiri.

Meskipun sepele, keberhasilan perjalanan Bandung-Jogja dengan sepeda motor sedikit memupuk rasa percaya diri saya. Dan saya ketagihan touring naik motor 🙂

DSC00345.JPG

2. Pengalaman Spritual

Mengendarai sepeda motor seorang diri, melewati hutan pinus yang gelap dan sepi di tengah malam waktu itu terkadang membuat saya berpikir, apakah saya benar-benar selamat waktu itu?

Jangan-jangan waktu itu saya dirampok, atau terjatuh dan terperosok akibat jalan yang berlubang? Terkadang ada perasaan seperti itu ketika saya berhasil melewati daerah yang saya sebut “Blackhole” karena untuk melewati daerah itu cukup sulit dan saya sendiri hanya bisa pasrah mengandalkan dua roda dari sepeda motor bebek saya.

Saya pasrah karena kondisinya serba salah. Saya pasrah karena saya tidak sedang mengendarai mobil 4 x 4 dengan cc super besar beroda besar dengan sistem suspensi yang luar biasa canggih.

Saya pasrah karena saya hanya mengendarai sepeda motor bebek 135 cc ini melewati hutan pinus, tengah malam, sepi dan gelap + jalannya berkelok dengan kondisi aspal yang buruk + tidak ada lampu penerangan jalan satupun kecuali pancaran lampu dari rumah warga yang sangat jarang didaerah itu.

Mau jalan pelan-pelan takut dirampok, mau jalan ngebut tentu nggak mungkin. Kondisi jalan super gelap, jalan yang berlubang nggak kelihatan dan akhirnya saya pasrah.

Ban depan dan ban belakang motor saya biarkan menghantam lubang aspal jalanan rusak itu.

Sikap “pasrah” itu mungkin semacam pencapaian spiritualitas saya yang tertinggi waktu itu.

Ketika sudah sampai Jogja saya nggak sadar, kenapa saya bisa selamat melewati jalan itu …

Seperti ada sesuatu yang transendental yang melindungi saya di jalanan “Blackhole” itu.

DSC00349.JPG

3. Mendapatkan Kebebasan dan Hilang Kendali

Sembilan jam berada di atas motor, kepanasan kehujanan demi kota tujuan. Saya sempat berhalusinasi di kecepatan tinggi, berharap motor bebek 135 cc ini adalah pesawat Us Enterprise di Film Star Trek Into The Darkness

DSC00352.JPG

Terkadang setelah berkendara dengan motor bebek selama lebih dari 6 jam, rasa capek akan mulai terasa. Mengendarai sepeda motor bebek dengan durasi yang cukup lama itu rasanya seperti naik papan luncur dengan gear, dua roda dan perseneling.

Anehnya, ketika saya menyadari bahwa saya seperti naik papan luncur dengan dua roda dan perseneling, saya malah merasa tambah semangat (gila).

Kemampuan manuver saya jadi sedikit bertambah, saya bisa selip kanan selip kiri, menyalib terus-terusan tanpa henti seperti sudah asyik dan menyatu dengan mainan saya : “Papan luncur dengan dua roda dan perseneling”.

Ini seperti autopilot, karena sebelumnya saya tidak bisa melakukan manuver-manuver tertentu dan apabila akal sehat saya masih berjalan saat itu pasti saya tidak berani melakukan aksi “gila” itu …

Disaat itu saya merasakan kebebasan, saya bebas menentukan apakah kendaraan di depan saya akan saya dahului atau tidak.

Saya bangga jika dapatmembuat pengendara lain di jalan itu terkesan atau geleng-geleng melihat aksi gila saya.

Saya bisa merasakan itu. Apakah itu yang dirasakan para supir bus antar kota antar provinsi ketika mereka menyerobot dan mendominasi jalan di arah berlawanan?

Itulah beberapa pengalaman dan persaan saya ketika melakukan perjalanan jarak jauh dengan sepeda motor bebek, meskipun selama ini saya hanya menempuh Bandung-Yogyakarta pp namun intesitasnya begitu sering.

Mungkin kamu punya pengalaman touring yang lebih banyak dari saya 🙂

Silahkan, jangan ragu berbagi di kolom komentar …

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s