Jalan-jalan ke Lombok (Part II, Menyeberang ke Pulau Lombok)

Mengwi, Tabanan, Bali
3 Januari 2015

2.00 WITA

Setelah memasuki gerbang terminal Mengwi Tabanan Bali, kondektur dan supir Bus berdiskusi dengan bahasa yang saya kenali seperti bahasa Madura, “te sate sate taiye”, eh setelah itu entah kenapa Kondektur dengan mukanya yang sangar, badannya yang kekar dan berbulu itu seakan seperti mengusir kita bertiga dari bus (ya iyalah udah sampe masak nggak disuruh turun).
Mungkin memang benar kalau orang jalanan dan dunia malam itu identik dengan orang yang sangar-sangar dan memiliki independensi diri yang kuat. Sobat-sobat sekalian diharapkan berhati-hati ya ketika memilih Bus …

Mudah-mudahan Bus tersebut nggak dipalak sama Suzanna atau diamuk sama FPI …
Setelah turun dari Bus, ada beberapa orang yang menawarkan jasa pijit plus-plus transportasi, mulai dari ojek, mobil dan travel. Beruntung, kami bertiga sudah membuat janji dengan Kang Rizki yang merupakan sepupu dari sobat kami Bogel sekaligus pemilik mobil yang akan kami sewa untuk menjemput di terminal Mengwi.
Kami bertiga punya trik tersendiri untuk menolak jasa transportasi yang ditawarkan tanpa membuat sakit hati si penawar jasa, ketika ditawarin dan sedikit dipaksa oleh si penawar jasa, kami menjawab “Maav mz aq gk biza” dan ketika kami dipaksa lebih keras lagi kami menjawab, “Cukup mz.. Aq tuch pling gx biza diginiin ..”

Lalu si penawar-penawar jasa transportasi tersebut semakin menjauh dari kami dan beralih ke calon customer lain. Ya begitulah, trik dengan berpura-pura menjadi Sahabat Dahsyat membuat perjalanan kami jadi aman dari para penawar jasa transportasi yang nakal.

Tak lama kemudian, ada mobil Avanza Hitam memasuki parkiran Terminal Mengwi di malam yang nyaris pagi itu dan melakukan aksi slalom yang mengeluarkan asap putih serta bunyi berdecit dari gesekan ban dengan aspal parkiran. “Nah itu pasti mobilnya” kata Ahong

“Hey dude, how’s trip? Are you guys having fun?” kata kang Rizki dengan bahasa ingggris yang sangat fasih

“Yes-yes, but the bus is very ugal-ugalan and the kondektur is a preman, he’s just like Agung Hercules”, kata Mas Brill

“Oh man … i’m sorry to hear that .. Let’s go …”

One .. Two .. Three .. kang Rizki menekan tombol play preset di tape Avanza itu dan langsung terdengar part Reff lagu Terapi Energi dari Saint Loco

“Nikmatiii musik iniiii *ayo cepet mari ketemu mbak surti seko mboyolali dimasakin bakmi” dendang kang Rizki sambil menirukan rap style dari Barry sang rapper Saint Loco. Setelah saya dengar-dengar dengan seksama ternyata lagu Terapi Energi itu sudah diremix dalam versi Boyolali.

Bahwa saat ini industri musik indonesia sedang collapse itu bullshit, nyatanya musik lokal malah menggeliat subur di pedalaman. Tanpa label rekaman yang bonafide sekalipun, para musisi lokal dapat tetap eksis. Justru yang bilang industri musik sedang collapse itu orang-orang label yang cuman maunya ngeruk keuntungan semata. “So, F*ck The Label !” kata kang Rizki melampiaskan kekesalannya dengan menginjak pedal gas Avanza-nya semakin dalam …

“eh kang-kang kalem weh, kalem” nguuung nguuungg ciitttt *kang Rizky menuju ke rumahnya untuk mengantarnya pulang, sambil menjelaskan spot-spot bagus di Bali ketika hari menjelang pagi.

Setelah sampai dirumahnya, kang Rizki berpesan agar berhati-hati dan kemudian ia melepas Avanza-nya bersama kami.

“Just call me if you guys need something, keep in touch” kata kang Rizki.
“Olraid kang” *handtoast

Jalan-jalan di Bali menjelang pagi itu enak juga, melewati kawasan legian dimana ada banyak bule pada pulang dari bar, ada yang nyanyi-nyanyi gitaran di pinggir jalan, ada juga yang foto-foto, ya bervariasi sih …
Kami akhirnya menunggu sunrise di pantai. Mungkin sobat-sobat sudah sering mengunjungi pantai-pantai ini :

IMG_5368.JPG

DSC01245.JPG

IMG_5399.JPG

IMG_5418.JPG

Sekitar jam 7 pagi, ada line masuk dari seorang sahabat yang bernama Devan. Pria yang lahir di Denver dan besar di Denpasar itu bernama lengkap Terdevan Dalam Vrestasi, namun akrab dipanggil Devan.

Devan mengajak kami semua untuk makan siang di tempat makan yang namanya Nasi Bali Men Weti, lokasinya berdekatan dengan Pantai Sanur.

Nasi Bali Men Weti ini tempatnya enak banget. Makan ayam suwir di pinggir pantai Sanur sambil melihat kapal-kapal besar berlayar.
Dari Nasi Bali Men Weti, Devan mengajak kami untuk jalan-jalan ke kawasan Danau Beratan, tak jauh dari lokasi Danau Beratan ada juga Danau Buyan. Tempatnya enak, adem dan berkabut, kita ber-empat duduk-duduk, nyari spot bagus sampai ketemu warung dan ada tempat untuk duduk-duduknya, pesan kopi dan merasakan kabut yang turun perlahan hingga sore hari.
Sempat beli bakso ayam yang lewat, Wah enak tenan !. mudah-mudahan abang bakso yang baik hati itu terhindar dari palakan Susanna maupun amukan FPI .

Sore itu kita ber-empat juga sempat mengunjungi Pura Ulun Danu Beratan.
Hari itu berakhir dengan makan siomay dan berpamitan dengan Devan.

Kami bertiga menginap dan tidur di Hotel Artha yang tarif kamarnya cukup murah

Perlu dicatat :
Hotel Artha
Jalan Diponogoro Denpasar – Bali
Telepon: 0361 – 222804

Kamar AC :
Bed ukuran single 3 buah (4x4m) AC, televise 14 inch, kamar mandi dalam Rp 250.000
Bed ukuran single 2 buah (3,5x3m) AC, televise 14 inch, kamar mandi dalam Rp 200.000

Kamar Non AC :
Bed ukuran double 1 buah (3,5x3m) Kipas angin, kamar mandi dalam Rp 100.000

Untuk info penginapan di Bali lainnya bisa klik tautan ini.

Sekitar jam 12 malam, kang Rizki mengambil mobil yang kami sewa, terimakasih kang ! …

Menyebrang ke Pulau Lombok dan Menemukan Jati Diri di Mataram
Bali, 4 Januari 2015
07.30 WITA

Lagi-lagi berkat kelihaian bargainning skill yang diajarkan oleh Pak Sutrisno (sapa tuh?) pagi itu kami sudah mendapat angkutan mobil dari Hotel ke pelabuhan Padang Bai.

DSC01258.JPGMenuju Kapal Feri dengan tujuan Pulau Lombok

Perjalanan naik kapal Fery dari pelabuhan Padang Bai Bali ke Pelabuhan Lembar Lombok memakan wakttu sekitar 5 jam.

Satu jam pertama dikapal, kami habiskan waktu dengan jalan-jalan di kapal

DSC01264.JPGBerangkat dari pelabuhan Padang Bai Bali

DSC01265.JPGBerlabuh

DSC01273.JPGMuatan Kapal

Empat jam berikutnya saya habiskan untuk mabok laut dan akhirnya tertidur pulas sampai kapal mulai merapat ke pelabuhan Lembar Lombok.

Lembar, Lombok, 4 Januari 2015

Sampai di pelabuhan Lembar kira-kira pukul 15.00 WITA, mengingat waktu itu tidak ada angkutan umum yang meyakinkan dari pelabuhan Lembar ke kota Mataram, kita bersikukuh untuk menolak segala tawaran angkutan sampai akhirnya memang tidak ada pilihan lain selain naik kendaraan mobil Suzuki Carry.

Ternyata, penampilan memang menipu kita semua ..,

Supir mobil yang tampangnya sangar ternyata hatinya lembut selembut salju. Supir yang juga merupakan teman nabi itu bernama Pak Syarif. Beliau pandai menggiring obrolan tentang episode sinetron 7 Manusia Harimau yang beliau tonton bersama istrinya semalam.

Dan kata Pak Syarif saya mirip dengan salah-satu pemain sinetron 7 Manusia Harimau itu … Wah saya berharap apa yang ia maksud adalah saya mirip dengan Samuel Zylgwyn yang ngganteng itu, bukan mirip dengan pemeran Pak Kades yang demen batu Akik di kampung Kumayan didalam sinetron itu.

Selama di perjalanan dari pelabuhan Lembar ke kota Mataram, kami menanyakan kepada Pak Syarif tentang penginapan murah di kota Mataram, Pak Syarif yang baik hati ini punya rekomendasi penginapan yang murah dan tempatnya lumayan, perlu dicatat nama penginapannya Hotel Internasional.. Lokasinya dekat dengan pusat kota Mataram, tepatnya di belakang Hotel Lombok Plaza.

IMG20160205154604.jpg

Hotel Internasional dikelola oleh Bapak Farouk Mukhsin yang juga seorang teman nabi itu beralamat di Jl. Gelatik No. 8. Bisa sms dulu untuk booking kamar di nomor 08175768290 (khusus untuk booking kamar aja ya).

IMG20160205154631.jpg

Atau sobat bisa langsung buka google maps dan masukin keyword “Hotel Internasional”.

  • Tarif sewa per-kamar 2 bed (dengan kamar mandi dalam) Rp 50.000, 00 (Per-Malam), dan kalau diisi 3 orang tarifnya jadi Rp 60.000, 00 (*kalau belum naik ongkos sewanya)
  • Ada juga yang kamar 2 bed tanpa kamar mandi dalam dengan tarif sewa Rp 30.000, 00 per-malam (*kalau belum naik ongkos sewanya).

Waktu pertama kali masuk ke dalam tempat resepsionis penginapan Hotel Internasional itu saya rasa ada yang salah dan membuat saya takut untuk menginap di penginapan itu. Saya melihat sang resepsionis sedang membaca koran yang sepertinya koran lokal, dan di Headline di koran itu bertuliskan “LELEMBUT SENENG PESBUKAN”. (Lelembut = Hantu)

“Waduh, modern juga hantu bisa main facebook” batin saya. Tapi setelah saya lihat pricelist kamar dan fasilitas “guling tambahan” yang akan diberikan, saya menjadi sumringah dan akhirnya menginaplah kami bertiga di Hotel itu.

Hotel Internasional juga menyediakan sewa motor. Dengan tarif sewa motor 80 ribu per 24 jam (*Disarankan sobat berhati-hati ya ketika memilih motor, jangan lupa cek keadaan permukaan ban. Kalo nyembul berarti enak kalo datar berarti “nggak hoh”).

Kami langsung ditawarin mau menyewa motor sekalian kah? “Emm.. kalo aku sih YESS, kalau mas Anang gimana?” kata saya.

Alhasil kami langsung kelabakan untuk memilih motor, berhubung motor yang kondisinya masih perawan adalah motor matic Honda Vario dan Honda Beat, akhirnya saya memilih Vario. Kalo kata Cece Agnes sih “I’m vario, What about you?” Tapi kalo kata Mamah Dedeh mah “Mamah tau sendiri !” memang Mamah selalu benar -_-

Saya berharap sosok Vario yang masih perawan itu adalah Vario 125 warna hitam yang dipake sama Cece Agnes dan koko Daniel di iklan di tipi. Eh .. ternyata Vario yang disewain ke saya Vario 110 dan warnanya pink pula !. “Haduh udah lah, yang penting bisa jalan-jalan di Lombok” kata sobat saya Ahong.

“Siap mang !!”

Dan setelah mandi, kami bertiga langsung terbirit-birit dengan spirit berangkat dengan motor sewaan ke pusat kota Mataram. Jangan salah ! kota Mataram tata kotanya sangat bagus ada beberapa pusat perbelanjaan besar.
image
Ada satu Mall namanya Mataram Mall.

Tergoda dengan kemewahan Mataram Mall dan dengan spirit ANTI PROLETAR yang kami anut, akhirnya kami bertiga memutuskan memasuki Mataram Mall. Lumayan liat cewek bening dan panda lokal. Akhirnya kami memutuskan juga untuk makan sore di MCD Mataram Mall dan menikmati indahnya senja di kota Mataram.

MCD Mataram Mall sore itu sangat ramai, “Hal ini berkat preferensi konsumen yang telah terbentuk melalui kekuatan brand equity dari MCD yang pada akhirnya akan mempengaruhi keputusan pembelian” Begitulah lamunan saya di kala senja di kota Mataram ketika teringat salah satu kelas mata kuliah di kampus yang diampu oleh dosen paporit saya yaitu Pak Eman (sapa tuh?”)

Kami semua dengan rakusnya melahap semua burger dan kentang yang dipesan “nyam-nyam-nyam” laziz gagap …

Sampai ada mbak-mbak dengan perawakan wajah indo-china memandangi saya terus menerus dengan muka yang tampak melongo, mungkin dalam hatinya mbak-mbak itu berkata “ih … masnya ndeso deh … tapi kok awesome ya xixixixi”

Nah Akhirnya saya menemukan jati diri saya yaitu sebagai “pria ndeso tapi awesome”, karena sebelumnya saya sempat bingung mencari siapa diri saya sebenarnya …

10802613_849578115086384_869378912_n.jpgSebuah pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh dirinya sendiri (Sumber :  Agan Harahap)

Beruntung saya tidak terjerumus kepribadian seperti ini :

10802759_380037595487008_214956216_n.jpgKepercayaan terhadap diri sendiri yang begitu tinggi (Sumber : Agan Harahap)

Ok, ketika kami bertiga sudah kenyang, mengobrol cukup lama dan googling dengan keywords “Tempat gahol mataram” yang muncul adalah tempat nongkrong remang-remang yang katanya asik di Jalan Udayana.

Dan ketika perjalanan dari Mataram Mall menuju jalan Udayana itu, kami sempat melihat aksi jotos-menjotos yang dilakukan oleh dua pemuda yang sepertinya tidak saling mengenal. Di sebuah perempatan lampu merah, pemuda yang tampak marah langsung turun dari motor dan memukul-mukul wajah seorang pemuda di depan motornya.Pukulannya terlihat seperti nguleg sambel pecel yang nggak cukup sekali tapi bertubi-tubi. Entah apa motivasinya .. Saya yakin pukulannya sangat keras, lha wong sampai bunyi keras sekali dan bertubi-tubi. Beuh sebuah kejadian yang merubah persepsi kami beberapa hari kedepan untuk tidak keluar disaat malam. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung kembali ke penginapan, cuci kaki, dan tidur …

 Mataram, 5 Januari 2015

05.00 WITA

Pagi buta, kami menuju pantai Tanjung Aan yang katanya bagus, bersih dan ada bukitnya yang terkenal itu yaitu Merese Hill.

image
Pantai Tanjung Aan terletak di pesisir selatan pulau Lombok, jangan khawatir meskipun terletak di selatan namun tidak ada ombak yang besar karena bentuk pantai ini adalah tanjung, lho kalau bentuknya tanjung kenapa disebut pantai ya?

Jarak Tanjung Aan dari Hotel tempat kami menginap sekitar 53 km. image
Jarak yang lumayan jauh apabila ditempuh dengan sepeda motor, tapi jangan khawatir karena disepanjang perjalanan sobat akan disuguhi pemandangan yang indah dan khas seperti pasar tradisional dengan corak kebudayaan yang tentunya berbeda dengan pasar-pasar di pulau Jawa ataupun pulau-pulau lainnya.

Perjalanan ke Tanjung Aan di pagi itu lancar terkendali, melewati jalan bypass yang sepi dengan kondisi aspal yang halus sekali. Kami melewati Bandara Internasional Lombok yang berada di daerah Praya dan melewati desa adat suku Sasak dengan arsitektur rumah khas suku Sasak.
image

Setelah sekitar satu jam perjalanan, kami akhirnya tiba di pantai Tanjung Aan. Yang membuat saya bingung, untuk memasuki kawasan pantai ini kok gak ada pos retribusi atau preman setempat yang minta uang sawer ya? Atau memang kami bertiga datang terlalu pagi? Hmm .. Bisa jadi.

Yang membuat saya betah di Lombok adalah masyarakatnya yang terlihat santai dan apa adanya. Tidak ada preman atau orang iseng yang minta uang ketika kita akan memasuki obyek wisata tertentu. Jikapun ada orang yang meminta uang, itu adalah petugas resmi obyek wisata setempat dan memakai seragan resmi, itupun mereka sangat sopan dalam meminta retribusi kepada pengunjung. Salut!
Dan yang paling saya suka ketika kami bertanya kepada orang atau penduduk sekitar, mereka terlihat sangat antusias sekali dalam menjawab dan malah menjelaskan spot-spot yang bagus.
Misalnya :
“Pagi mas, maaf mau nanya, kalau pantai Tanjung Aan masih jauh gak ya?” Tanya kami kepada penduduk setempat.
“oh sebentar lagi sampai mas, pemandangan disana indah sekali, mas bisa naik ke bukit merese view nya indah sekali” jawab penduduk setempat, menjawab dengan senyum, ramah dan sangat terlihat antusias sekali sehingga membuat wisatawan yang berkunjung makin semangat (padahal pantainya masih jauh) 🙂

Ok, ketika kami tiba di Tanjung Aan, kami langsung diarahkan oleh mas-mas yang mengelola parkir dan dikenai biaya parkir 5 ribu rupiah permotor.
Ketika melihat pantai dengan pasir putih yang sepi dengan air laut yang jernih membuat kami langsung berlari meluapkan kegembiraan. Pantai seperti ini tidak pernah saya temui di pulau Jawa.

image
Tanjung Aan, pantai dengan pasir putih dan bukit hijau yang mengelilinginya, bukit itu dikenal dengan nama Merese Hill ..

Buat sobat yang berkepribadian santai dan berwibawa, sobat bisa duduk-duduk imut sambil tiduran sambil ngawasin burung nanti lepas.
image
Fasilitas kursi dan kasur yang “Ho oH” itu bisa sobat nikmati dengan membeli bir setempat, makanan atau ya minuman segar lainnya seperti Hore-Hore atau Ale-Ale untuk menemani sobat bersantai dan berjemur ria.
Oh iya kami sempat berkenalan dengan tiga orang wanita cantik, nama mereka bertiga adalah Bunga, Citra dan Lestari.

Setelah puas berguling-guling di pasir, bikin istana pasir dan mandi-mandi gemes bareng mbak Bunga, Citra dan Lestari di tepi pantai, akhirnya kami memutuskan untuk mencoba naik ke bukit Merese yang berada persis di sepanjang pantai Tanjung Aan.
image
image
Mari mendaki Merese Hill

image
Baru naik bukit sedikit saja viewnya sudah bagus seperti ini …
Karena penasaran, akhirnya kami kembali mendaki lebih tinggi
image

Barisan lika-liku bukit terlihat menawan dengan rerumputan hijau.
Diatas bukit Meresse ini sobat bisa main guling-gulingan, bobo-boboan, khayang, spiral, roll depan, roll belakang, doggy style, women on top, pungguk merindukan bulan sampai jungkir balik juga boleh asal jangan main burung ya kasihan nanti burungnya lepas. Ya! sobat bisa melakukan gerakan-gerakan ekstrim yang disebutkan diatas karena rumput di Merese Hill ini sangat nyaman dan lumayan tebal.
image
Tapi buat sobat yang tipenya lebih suka dikamar sih nggak usah jalan-jalan ke Lombok juga gak papa, dengan menonton film yang dibintangi Julia Perez saja sobat-sobat sudah merasakan sensasi mendaki gunung kok…
image

Karena masih penasaran lagi, kami akhirnya berjalan lagi menyusuri bukit Merese itu.
image
Dan ternyata dibaliknya ada daratan yang juga hijau dan ternyata ada pantai lagi yang sangat-sangat-sangat sepi. Private Beach!
image
Udah kaya di New Zealand kan sob?
Tapi ada salah satu sobat kami di Bandung yang bilang “Ah itumah Ranca Buaya”. Huffftt -_-
*****

Setelah puas jalan-jalan di Meresse Hill kami akhirnya berjalan lagi menyusuri pantai-pantai di dekat Tanjung Aan dengan mengendarai sepeda motor sambil berjalan kembali ke Hotel Internasional tempat kami menginap.

image

Kami memutuskan untuk mampir ke pantai Seger yang masih sejalur dengan pantai Tanjung Aan. Dan ternyata memang benar pantai itu Seger sesuai dengan namanya karena sobat saya mas Brill melihat “Semangka Bule” ketika seorang girl with blonde hair sedang asik mandi dipantai itu. Saya dan Ahong yang memilih ngopi saja akhirnya melewatkan fenomena “Semangka Bule” itu 😦

image

Terlihat tebing di pantai seger, saya dan Ahong naik ke puncak bukit itu.

image

Pemandangan sebelum mencapai bukit pantai Seger yang katanya sekarang sih katanya udah mainstream.

image
Pemandangan diatas bukit pantai Seger yang bener-bener Seger …

Setelah puas ngopi-ngopi dan duduk-duduk di pantai Seger kami kembali ke Hotel Internasional tempat kami menginap. Padahal waktu masih menunjukkan pukul 14.00 WITA, mungkin jika kami bisa menyaksikan sunset di pantai itu pasti bagus banget, namun apa daya karena melihat aksi jotos menjotos semalam yang jotosannya mantep kayak nguleg sambel pecel itu membuat kami takut untuk melakukan perjalanan di malam hari.

(Bersambung)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s