Identitas Diri Ditengah Masyarakat Komunal Indonesia

image

Saya tidak dapat memungkiri bahwa salah satu ciri masyarakat Indonesia memang adalah budaya komunalnya. Kebanyakan orang Indonesia (sepanjang pengamatan saya) memang tidak menemukan kenyamanan bila harus sendirian, apalagi bila berada di tempat atau lingkungan yang baru atau asing, dalam waktu yang cukup lama. Di Indonesia sendiri pun, kebanyakan mereka adalah bagian dari grup atau kelompok tertentu, dan memiliki lingkaran pertemanan tertentu.

Ciri-ciri Masyarakat Komunal :
Berikut ini ada 3 ciri-ciri umum masyarakat komunal menurut Rhenald Kasali:

  1. Memiliki rasa ingin tahu yang demikian besar terhadap orang lain.
  2. Bila ada orang lain yang berbeda, maka mereka akan “dibentuk” agar menjadi sama (dengan masyarakat setempat) melalu mekanisme rumor/gosip. Dengan demikian gosip lebih ditujukan kepada “mereka yang tidak sama (dengan masyarakat setempat)” supaya “menjadi sama (dengan masyarakat setempat)”.
  3. Dengan prinsip dasar “hormat terhadap penghuni lama”, maka setiap pendatang baru dituntut memberi hormat pada mereka yang datang lebih dahulu. Mekanisme perpeloncoan, baik secara resmi (melalui ritual-ritual tertentu) maupun secara tidak resmi (melalui perintah-perintah yang tidak resmi) atau pun melalui hambatan-hambatan terhadap orang-orang baru diterapkan untuk menimbulkan kepatuhan bagi orang-orang baru terhadap penghuni lama.

Saya mencoba membahas lebih lanjut point nomer dua dari teori yang dipaparkan oleh Rhenald Kasali. Menurut saya point nomer dua adalah point yang sangat menarik untuk dibahas, terutama mengenai identitas diri (individu), yaitu bila ada orang lain yang berbeda, maka mereka akan “dibentuk” agar menjadi sama.

Nah, menurut saya, akibat dari proses orang yang terbiasa “dibentuk” itu menyebabkan tidak adanya kedalaman pemikiran tertentu pada orang Indonesia pada umumnya. Misalnya ketika orang Indonesia ditanya pendapatnya mengenai agama pasti sebagian besar dari mereka jawabannya mengarah kepada agama itu “pedoman hidup”.

Ya itu bagus sih, tapi kalau dari anak satu kelas di sebuah kampus atau orang se RT termasuk pak Kadesnya ditanya pendapatnya mengenai agama dan jawabannya kurang lebih sama yaitu “Pedoman Hidup,” menurut saya kurang kreatif aja gitu.

Mbok yo ada jawaban yang lebih canggih dikitlah mengenai pendapat tentang agama. Misal ada yang menjawab “agama itu privasi saya”, atau “agama itu hak pribadi tiap warga negara”, atau anda bisa diam saja ketika ditanya pendapat tentang “agama itu apa” karena anda tidak suka ketika ada orang membahas tentang agama, atau anda bisa balik menanyakan kepada si penanya tentang “agama itu apa” dan sharing tentang keyakinan anda pribadi. Boleh kok! Ungkapin aja, sebetulnya anda tidak harus menjawab bahwa agama itu adalah pedoman hidup dst… Silahkan anda jawab menurut pendapat anda sendiri. Jangan karena orang lain menjawab “B” lantas anda juga menjawab “B”. Walaupun terkadang atas alasan praktis dan kemudahan untuk mencapai kesepakatan tertentu kita lebih memilih untuk menyetujui pendapat umum.

Saya sangat jarang menemui orang yang memiliki ke-khasan pemikiran di Indonesia (walau saya belum pernah tinggal di negara maju dan saya sedikit menggeneralisasikan masalah ini) namun terkadang saya berpikir bahwa mungkin ini yang membuat Indonesia menjadi berada pada posisi negara berkembang karena warga negara didalamnya tidak dibekali dengan pemikiran yang kritis dan kreatif.

Mungkin ini semua terjadi karena masyarakat Indonesia terlalu lama terkungkung dalam identitas komunal, dimana masyarakat Indonesia terpenjara identitasnya berdasarkan atas identitas kesukuan, keagamaan, golongan dan lain-lain.

Mungkin masyarakat Indonesia saat ini seperti gambaran masyarakat pra-modern dimana budaya komunal atau budaya “rame-rame” dan “sepemikiran” masih kental berada didalam benak elemen masyarakat. Saya tidak menyalahkan bahwa semangat masyarakat dengan semangat identitas komunal itu buruk, namun yang saya khawatirkan adalah ketika semangat “rame-rame” itu hanya melahirkan generasi yang saling mengandalkan satu sama lain dan tidak memupuk kemandirian diri.

Atau belakang ini yang saya amati, terkadang semangat komunal “rame-rame” ini malah disalahgunakan sebagai bullying atau mekanisme perpeloncoan untuk mencapai tingkatan tertentu dengan pendekatan yang terkesan sangat etis sekali.

Contoh saja : ketika bekerja dalam team entah itu team dalam proyek kerja beneran atau sekedar mengerjakan tugas kampus. Sewajarnya pekerjaan dalam sebuah team esensinya adalah pembagian tugas kepada tiap-tiap anggota team secara adil agar pekerjaan selesai tepat sasaran dan waktu. Tapi ada orang-orang tertentu didalam team yang hanya mengandalkan satu orang yang dinilai “cukup pintar” untuk mengerjakan pekerjaan team itu. Alhasil anggota team yang lain berusaha mendekati (menjilat) si orang yang “cukup pintar” itu dengan pura-pura akrab, pura-pura baik atas dasar pertemanan tertentu agar si orang yang “cukup-pintar” itu terdesak untuk mengerjakan tugas team seorang diri dan anggota team lainnya berleha-leha senang gembira karena tugas selesai dikerjakan oleh orang yang “cukup-pintar” itu.

Atau orang-orang didalam team itu malah berpura-pura sibuk atau pura-pura bodoh agar si orang yang “cukup pintar” itu terpaksa mengerjakan seluruh pekerjaan team yang katanya workteam itu.

Ini nyata di Indonesia, ternyata bullying tersajikan dalam bentuk-bentuk baru yang terselubung, tak hanya di level sekolahan tapi juga kampus dan mungkin di kantor/dunia kerja yang terbungkus rapi dalam kemasan yang begitu etis.

Ya mungkin hal buruk seperti ini tidak terjadi di semua lapisan masyarakat, beberapa masyarakat di Indonesia dengan kebudayaan tertentu masih sangat menjunjung tinggi integritas dan independensi diri yang kuat.

Saya tidak menyalahkan kondisi Indonesia yang tersaji tercampur baur dalam masyarakat multikultur. Saya tak menyalahkan kondisi masyarakat Indonesia yang masih menjunjung tinggi budaya komunal. Beberapa negara maju tega meninggalkan kebudayaan asli leluhurnya yang bercirikan seperti budaya komunal merubah haluan tujuan ke arah modernisme sepenuhnya dimana pendapat pribadi dijunjung tinggi. Itu semua demi kemajuan, dimana saat ini dan beberapa dekade kedepan peradaban dunia masih memakai bahasa pergaulan yang sama yaitu modernisme. Indonesia (menurut saya) sangat ketinggalan jika harus mengejar negara-negara maju yang sudah sepenuhnya berbahasa satu “modern” sedangkan Indonesia kondisi masyarakat nya masih bercirikan masyarakat pra-modern. Akan terlalu berat jika harus mengejar langkah-langkah seribu negara maju.

Saya pernah mendengar bahwa identitas diri itu seperti bawang merah yang apabila dikupas bawang merah tersebut terdiri dari lapisan-lapisan. Lapisan pertama bisa jadi lapisan berdasar kesukuan anda, lapisan kedua bisa jadi agama anda, lapisan ketiga golongan anda, lapisan keempat strata sosial anda, lapisan kelima bisa jadi pendidikan anda dan apabila terus dikupas maka lapisan-lapisan itu habis tak tersisa. Maka identitas diri yang sebenarnya itu kosong, tanpa substansi, kita semua bukan siapa-siapa setelah lapisan-lapisan identitas itu dikupas habis. Oleh karena itu penting untuk dapat berdiri sendiri, memiliki independensi diri yang kuat, dan membangun identitas diri pribadi. (Tanpa bermaksud untuk menggurui).

Advertisements

6 responses to “Identitas Diri Ditengah Masyarakat Komunal Indonesia

  1. Kalau menurutku bullying di Indonesia sudah dari lama dan sangat mendalam. Contohmu soal agama itu, itu kan satu bentuk dari bullying dari negara dan yang akhirnya memasyarakat. Mungkin ‘social pressure’ istilahnya yah? Tapi kalau individu yg merasakan langsung dari teman/kenalan yah akhirnya bullying juga sih. Konsep misalnya yang ulang tahun traktir atau bahkan di’egging atau waktu jaman dulu punya sepatu baru harus diinjak, malak oleh2, dsb dsb. Kalau menurutku kalau kita bisa bertemu ditengah dimana komunalnya ada tapi hanya hal2 yang tidak menyusahkan warga komunnya dan pengertian kalau ada perbedaan dalam setiap orang. Terlalu pribadi juga susah sih soalnya akan selalu ada orang yang ekstrim yang menjadikan perbedaan pribadi berubah ke egoisan. Wah maaf nih kepanjangan komennya. 😄

    Like

    • Wah such an honour nih dikomen sama mbak Andien 😀 . Iya juga ya mungkin bisa disebut social pressure. Memang di jaman yang katanya modern ini pendapat atau pemikiran per-individu begitu dihargai, kadang karena terlalu berlebihan jadi mengarah kepada egosentris 😀 . Tapi yang pengen aku tekankan kenapa ya kok di Indonesia kayaknya orang-orang takut berbeda pendapat/pemikiran, apa ini karena identitas komunal yang begitu melekat dalam benak orang2 Indonesia?. Kalau pengalaman mbak Andien melihat orang-orang selama di eropa gimana mbak? 🙂

      Like

      • Haha! Wah biasa aja, kalau bacaan dan diskusinya menarik jadi seru ngobrolnya. Kalau menurut beragam aspek yg membuat org Indonesia begitu, termasuk jumlah orang, budaya yg dipengaruhi lingkungan geografis, alam dsb, pengaruh paling besar adalah sistem pendidikan dan negara. Orde baru dan propaganda, yg lumayan pintar mengkontrol masyarakat. Semoga sih perubahan sekarang dan adanya internet merubah kedewasaan orang berfikir sedkit2. Perbedaan pendapat sepertinya mulai ada tapi ada seperti peer pressure untuk tetap berada dalam 1 kubu atau kubu lainnya. Dan tidak menghargai bahwa jika seseorang beda pendapat dengan satu pribadi bukan berarti orang itu salah atau jahat, jadi harus dilecehkan dan dimusuhi. Eropa beda2 sih – sepertinya ini harus jadi blog update ku yah.. hahaha 😄

        Like

      • Setuju banget, entah kenapa di masyarakat Indonesia ada semacam peer pressure untuk tetap berada dalam satu kubu atau kubu lainnya. Mudah-mudahan dengan adanya internet saat ini setidaknya pemikiran orang-orang sudah mulai terbuka dan bisa menerima perbedaan. Wah betul bisa menjadi blog updatenya mbak Andien nih 😀

        Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s