USA Trip, a Journey to a Land Filled with Hamburger Stands

image

3 Januari 2000

Setelah menonton beberapa serial Film Home Alone, hari itu saya mendapatkan ide untuk jalan-jalan ke Amerika Serikat.

Ya! Amerika Serikat yang makmur dengan perekonomiannya yang maju dan iklim politik yang kondusif karena dijaga oleh sosok batman, spiderman, iron man dan juga power rangers. Begitu juga dengan Indonesia yang selalu aman sentosa karena dijaga oleh dukun-dukun kawakan, para polwan cantik dan segelintir makhluk gaib yang turut berperan dalam menjaga integrasi bangsa.

Namun, rencana perjalanan ke Amerika Serikat adalah sesuatu yang mustahil bagi saya waktu itu. Apalah aku ini, hanya seorang bocah ndeso tapi awesome yang punya impian selangit. Tapi saya tak boleh menyerah begitu saja, saya harus melakukan usaha dengan doa, tak lupa memanjat pohon mangga.

Hari demi hari bayangan akan Negeri Paman Sam itu selalu terlintas didalam kepala saya. Melalui tayangan di televisi, kehebohan film-film Hollywood atau melalui pengaruh musik dari band-band asal Amerika Serikat. Semua hal itu semakin membuat saya yakin untuk harus segera ke Amerika !

Hingga pada 20 Januari 2016, saya sudah berhasil mengumpulkan sejumlah uang yang cukup untuk membuat visa Amerika, tiket pesawat pulang-pergi, dan juga ada sisa sedikit uang untuk hura-hura di Negeri Paman Sam itu.

Keesokan harinya saya segera pergi ke rumah seorang teman yaitu Priskila Jo yang merupakan agen pengurus paspor dan visa professional untuk membimbing dan menemani saya dalam membuat anak eh … visa :D. “Santai, pokoknya ngana tahu beres, samua so klarr”, kata Priskila kepada saya dengan logat bahasa manado yang masih lekat pada dirinya.

29 Februari 2016
Hari itu adalah hari besar bagi saya, hari itu saya berangkat ke Amerika dengan rute penerbangan Yogyakarta ke Jakarta Soetta lalu ke Tokyo Narita hingga akhirnya terbang lagi menuju John F Kennedy International Airport di New York city.

Ini adalah penerbangan jauh pertama saya, meskipun sudah pernah naik ding-dong pesawat beberapa kali dan sudah terbiasa dengan kesendirian solo backpacking namun rasa takut dan “was-was” masih menghinggapi saya. Takut akan diculik Santoso hingga takut nggak bisa pesen makan karena bahasa inggris saya yang pas-pasan.

image

Berbekal pengalaman jalan-jalan ke Tokyo tahun lalu dan berbekal pengalaman Backpacking ke Lombok, akhirnya saya memantapkan hati saya. Ngapain takut?, kan mau happy-happy dan jalan-jalan pikir saya waktu itu. Akhirnya dengan semua persiapan sana-sini dan pencarian informasi penginapan di New York, saya mantap untuk berangkat.

Setelah transit dan menunggu di Narita Airport selama beberapa jam dan setelah mendengarkan informasi untuk memasuki ruang tunggu bagi pesawat lanjutan ke New York, saya mulai menuju ke ruang tunggu. Namun proses memasuki ruang tunggu ternyata cukup rumit diantaranya para penumpang harus melalui pemindaian yang cukup ketat.

Saya kaget ketika seorang petugas bandara menyuruh saya untuk memasuki pintu khusus yang berbeda dari para penumpang lainnya. “Through this way sir”, pinta petugas bandara itu kepada saya. Saya pun menganggukan kepala dan menuruti kemauan petugas bandara yang memiliki bentukan wajah khas orang jepang namun bahasa inggrisnya sangat fasih itu. “Jangan-jangan dia petugas keamanan Amerika Serikat” batin saya.

“Do you bring any marijuana?”, kata petugas bandara yang mirip dengan Suneo itu. Saya terheran akan apa yang diucapkannya dan meminta pengulangan, “Excuse me sir?” kata saya. Kemudian dia mengulangi kalimat pertanyaan yang sama sambil menggeledah dan menggerayangi tubuh saya. Semua barang di saku celana saya dikeluarkan olehnya, mulai dari handphone, dompet, amplop sumbangan amal Jariyah hingga bon-bon Indomaret. Semua pernak-pernik itu ditaruhnya diatas meja disamping saya.

Setelah puas menggerayangi tubuh saya kemudian si Suneo itu menggeledah isi tas saya. Saya hanya bisa diam saja, menyaksikan aksi si Suneo itu. Ia kemudian mengambil dua bungkus rokok class mild yang ada didalam tas saya dan menaruhnya di atas meja yang sama.

“Oh mungkin yang dia maksud marijuana itu rokok kali ya”, gumam saya sambil sedikit tertawa cekikikan.

“Put them into the box”, kata si Suneo seraya menunjuk barang-barang saya yang ia letakkan diatas meja.

“All Right” balas saya.

Saya menaruh rokok, handphone beserta dompet didalam sebuah box. “Now take off your shoes”, kata si Suneo sambil menatap tajam kedua bola mata saya. Dengan cekatan saya mencopot sepasang sepatu yang melekat di kaki saya, tak lupa mencopot kaos kaki yang sudah lama nggak dicuci untuk ditaruh kedalam box yang sama agar kemudian dicek melalui sinar x-ray yang cukup lama. Mudah-mudahan si Suneo tidak menemukan sosok Sarden hitam didalam kaos kaki saya.

Setelah si Suneo menginput beberapa data didalam komputer, akhirnya ia mempersilahkan saya untuk masuk kedalam ruang tunggu dan melanjutkan penerbangan ke John F. Kennedy International Airport di New York city.

Didalam penerbangan menuju ke New York, saya duduk dikursi aisle, cukup tersiksa dengan posisi kursi ini karena tidak bisa melihat pemandangan diluar pesawat. Terlebih, dua orang disamping saya adalah orang Jepang asli yang kalau sedang mengobrol membuat saya seperti nonton film anime tanpa subtitle. “Tapi rapopo lah, yang penting selamet sampai tujuan”, batin saya dalam hati.

Pesawat sempat mengalami beberapa turbulensi berupa guncangan yang cukup bikin Saipul Jamil jadi taubat dan bisa bikin badan Agung Hercules jadi kempes. Ya begitulah risiko menggunakan transportasi pesawat udara.

Namun jangan khawatir, turbulensi udara memang acapkali terjadi, yang terpenting selalu kondisikan mental dan pikiran yang optimis dengan cara mendengarkan lagu yang ceria atau dengan menonton film lucu yang disediakan. Namun jika kamu mendengarkan lagu dari sahabat dahsyat dan menonton sinetron Indonesia kekinian, maka dapat dipastikan kamu akan mengalami kegalauan diatas permukaan samudera pasifik diantara awan pekat yang gelap. Hmmm …

Saya akhirnya tertidur pulas sampai pesawat mendarat dengan mulus di Bandara John F. Kennedy pukul 8 pm (waktu setempat).

Tidak sabar rasanya ingin segera naik taksi dan pergi ke pusat kota, menjajal aneka street food di jalanan New York city seperti Ishai Golan dalam program acara Street Food around the World yang disiarkan di National Geographic Channel, serta istirahat di penginapan yang telah saya pesan.

Namun, semua bayangan indah itu sirna setelah melihat antrian imigrasi yang begitu panjang. Ternyata untuk keluar dari Bandara saja begitu sulit.

“Are you from Japan Airlines flight?”, kata Mbak-mbak bule cantik tapi jutek yang sepertinya petugas bandara.

“Go to that gate !”, kata mbak bule sambil menunjuk loket imigrasi yang dipenuhi antrian orang-orang bertatto, berwajah oriental, berwajah gengster, berwajah Yakuza, tipikal wajah Timur-Tengah dan segelintir wanita yang memakai cadar. Tanpa pikir panjang dan dengan pedenya saya menuju ke loket imigrasi itu.

*****

“Who sent you here?”, kata mas-mas didalam loket itu.

“That imigration officer sir”, kata saya seraya menunjuk mbak petugas imigrasi yang telah menusuk hati aku menyuruh saya untuk ke loket itu.

Mas petugas loket itu membolak-balik lembaran visa saya. Kemudian petugas loket itu mengeja nama saya, nampak ia agak kesulitan dalam mengeja nama saya, “Mr. Dwaikai Waijaiyaintou?”

Yes sir, Dwiki Wijayanto”

“Ok, follow me!”. Mas loket imigrasi itu kemudian membungkus paspor dan visa saya kedalam sebuah map kuning dan menuju ke sebuah ruangan dibelakangnya. Saya mengikutinya, entah apa yang dimaksud dengan “follow” olehnya, mem-follow instagramnya atau twitternya?. Dan benar saja, ternyata saya diajak untuk masuk kedalam ruangan yang terdiri dari beberapa loket dan dipenuhi antrian lagi.

Setelah lama menunggu dengan berdiri didepan pintu loket, akhirnya saya bisa masuk kedalam sebuah ruangan dan duduk di kursi putih memanjang yang terbuat dari kayu dan dilapisi besi sebagai penempanya. Ruangan itu mengingatkan saya pada sosok puskesmas di kecamatan dengan antrian yang panjang.

Saya mengamati orang didepan antrian saya yang sedang diinterogasi didalam sebuah ruangan khusus didalam ruangan itu.

Ada seorang pria berwajah tipikal Timur Tengah yang membawa beberapa peralatan musik seperti rebana dan sitar, ia ditanyai pertanyaan tanpa henti. Dengan terbata-bata pria itu menjelaskan bahwa ia adalah sosok artis dari Uzbekistan yang diundang ke New York dalam acara pernikahan saudagar minyak yang tinggal di Brooklyn. Tetapi sepertinya ia lupa membawa undangan dan walaupun ia membawa undangan pernikahan, saya rasa bukti itu belum cukup menguatkan bahwa dia bukanlah pelaku tindak kriminal.

Alhasil, untuk menguatkan argumen dari pria Timur Tengah itu, para petugas imigrasi menyuruhnya untuk memainkan beberapa lagu. Pria Timur Tengah itu pun menyanggupi dengan menepuk-nepuk rebana sambil mendendangkan kidung berbahasa Arab.

Langsung saja seketika seluruh ruangan imigrasi itu nuansanya berubah. Semua orang menengadahkan kedua tangan sambil mengucapkan kata “Amin”, saya pun tanpa tersadar juga mengucapkan kata “Amin” ditengah bait lirik dan tepukan beat rebana yang dimainkan oleh pria Timur Tengah tersebut yang bagi saya lagunya mirip seperti lagu dari Udin Sedunia.

Mendengar indahnya lantunan nada dari sang pria Timur Tengah tersebut, seperti tersihir petugas imigrasi langsung mengucapkan sebuah kalimat yang terdengar sangat bijak, “Welcome to United States of America !”.

Seorang petugas imigrasi berkulit hitam menyuruh saya untuk memasuki ruangan khusus itu, “Oh my God, ternyata sudah giliranku”, batin saya dalam hati. Walaupun rasanya deg-degan dan jantung sudah pindah ke lambung, saya berusaha tetap tenang.

“Good Afternoon Sir”, kata saya ramah menyapa petugas imigrasi sebelum saya duduk disebuah kursi didalam ruangan khusus itu.

“Have a sit !”, kata petugas imigrasi itu sambil melotot, mengingatkan saya pada sosok Suzanna ketika sedang malakin para tukang sate yang lewat. “BangSatenyaDuaPuluhTusukBang” … “Se.. Se..Setaaaannn”

Ok, kembali ke konteks. “Mr. Dwaikai Waijaiyaintou Yutomu?”, kata Mas-mas Bule petugas imigrasi didepan saya yang jika dilihat dengan seksama ia ternyata mirip dengan Santoso yang selama ini dicari.

Yes Sir, it`s me Dwiki Wijayanto Utomo“, kata saya seraya membenarkan pengejaan nama yang salah.

“So, what makes you come to America?”, kata mas-mas itu dengan nada bicara yang terdengar seperti mengintimidasi dan meremehkan saya.

Tentunya saya tak bisa menjawab akan bertemu Spiderman atau sekedar numpang selfie di Amerika. Akhirnya saya mengungkapkan tujuan kedatangan saya yang sebenarnya dengan kalimat yang puitis :

“Let me tell you sir, I came to this country, escaping persecution, poverty, and hunger. I wanted to live in a land, a land filled with hamburger stands. And not just one type of hamburger, okay? Hundreds of types with different sizes, toppings, and condiments, And That land was America. America, Sir ! America !. Now, This is about the pursuit of happiness. This night… is about the American dream !”

Tiba-tiba mas pegawai imigrasi itu memeluk saya dan sambil menangis sesenggukan ia mengucap, “Welcome to United States of America !”.

Saya tak menyangka jika quote dari Kumar Patel dalam film Harold and Kumar go to White Castle itu bisa meluluhkan hati petugas imigrasi yang galak dan mirip seperti Santoso itu.

Setelah hampir dua jam tertahan di bandara John F. Kennedy, akhirnya saya resmi diperbolehkan untuk memasuki Amerika Serikat.

Karena hari sudah larut malam dan badan sudah begitu lelah akhirnya saya memilih untuk langsung pergi ke penginapan. Barulah keesokan harinya saya memulai petualangan di Negeri Paman Sam, negeri dengan berbagai macam jenis varian Hamburger.

 

S.E.L.E.S.A.I

Baca Juga :

Seri Backpacking ke pulau Lombok Part I (Dari Jogja ke Bali)

Seri Backpacking ke pulau Lombok Part II (Menyeberang ke pulau Lombok dan menemukan Jati diri di kota Mataram)

Keindahan Pantai Sulamadaha di pulau Ternate

Misteri Danau Tolire Besar di kaki Gunung Gamalama

Advertisements

12 responses to “USA Trip, a Journey to a Land Filled with Hamburger Stands

  1. Wah gmna caranya dpt visa america tuh mas? Aku denger katanya susah banget tuh.,,, trs ketawa ngakak waktu org timur tengah itu nyanyi semua org pada bilang amin,,, itu beneran mas??? Hahahahaha

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s