Repetisi

Menjelang matahari terbenam, suasana desa tampak sepi. Tak ada satupun kendaraan melintas maupun pejalan kaki yang berjalan di jalan tak beraspal. Jalan tanah kering yang menanjak lalu menurun menuju bibir pantai sepi berpasir putih. Diantara jalan menanjak dan menurun itu ada sebuah rumah kecil tak bertetangga, beronamen kayu yang berpekarangan luas, di sudut utara pekarangan tampak elegan sedikit sakral, didiami oleh dua patung wanita berbalut kain hitam sensual menjaga kedua sisi sedan klasik berwarna hitam nan panjang dan lebar. Sudut selatan pekarangan yang menghadap bibir pantai terkesan luas, dipenuhi oleh nuansa birunya laut dan langit. Daun-daun bercorak kekuningan dan kemerahan gugur di pekarangan rumah itu, menutupi rumput-rumput kuning yang lebat.

Di beranda rumah itu, tampak seorang pemuda duduk di kursi goyang antik sembari mendengarkan alunan musik Jazz dari alat pemutar musik tuanya, merokok sebatang cerutu dan meminum sebotol bir khas penyulingan desa. Ia menikmati sepinya suasana desa menjelang matahari terbenam.

Karya-karya seni lukis, kayu berpahat, patung-patung sakral memenuhi rumah kecilnya, pemuda itu seorang seniman seni rupa, ia bernama Rony. Dua bulan lagi dia akan memamerkan karya-karyanya di pameran tunggalnya. Oleh para kolektor seni, ia dikenal sebagai sesosok seniman yang kuat akan karakter style dan gayanya, ia juga dikenal sebagai seniman muda yang berani bereksperimen, berganti-ganti bahan untuk media karya seninya.

Pada pertengahan bulan sebelum pameran tiba, Rony mendapat kabar bahwa kakak laki-lakinya sedang sakit keras. Sakit ini merupakan penyakit tumor otak, kelainan gen yang diderita oleh keluarganya dan selalu menyerang kaum pria di keluarganya, Rony teringat bahwa Ayahnya juga mati muda karena penyakit ini. Keesokan harinya ia menuju rumah kakaknya yang berada di tengah kota.

Sesampainya ia disana, ia tahu bahwa sebenarnya kondisi kakaknya sudah kritis bahkan sedang sekarat karena ia mulai menyampaikan pesan kepada anak-anaknya. Dirumah itu kakaknya berpesan pada istri dan anak-anaknya yang masih remaja bahwa jangan pernah takut akan kematian, Alam Semesta dari dahulu sudah ada, besok akan ada dan akan selalu ada, apabila hidup kita ini berakhir akan muncul hidup yang baru dan persis seperti sebelumnya, jadi jangan pernah sedih, di kehidupan yang sama nanti kita akan bertemu kembali, berkumpul bersama segalanya persis sama terulang.

Anak-anaknya menitihkan air mata, kata-kata dari Ayahnya seakan ucapan palsu hanya untuk menenangkan hati dan meredam tangis anaknya. Rony menyimak kata demi kata yang diucapkan oleh kakaknya itu, hingga akhirnya kakaknya meninggal dengan tenang di rumah yang damai itu. Ia sama sekali tak menyangka bahwa kakaknya yang dikenal sangat baik olehnya harus secepat itu pergi.

Upacara pemakaman telah usai, isak tangis masih terdengar seakan tak rela melepas kematian sang mendiang, seluruh anggota keluarga berkomitmen akan membantu keluarga yang ditinggalkan dalam bentuk apapun. Rony harus kembali ke rumah studio seninya di desa, bagaimanapun ia harus menyelesaikan dan mempersiapkan karya-karya untuk pameran tunggalnya nanti, ia tidak mau mengecewakan para kolektor dan hadirin yang akan datang pada pamerannya.

Namun ketika Rony tiba di rumahnya yang sepi, ia kesepian, ia selalu teringat akan kematian kakaknya, apalagi usia mendiang tak terpaut jauh dari usia Rony, ia takut kematian akan menjemputnya sebentar lagi, apalagi penyakit itu merupakan penyakit tumor otak, kelainan gen yang diderita oleh keluarganya dan selalu menyerang kaum pria di keluarganya. Pikiran-pikiran negatif seperti itu yang terus menghantui pikirannya, berhari-hari ia hanya merenung, pada suatu hari perenungannya semakin dalam.

Apakah alam semesta dari dahulu sudah ada? Besok akan ada dan akan selalu ada? Apabila hidup kita ini berakhir akan muncul hidup yang baru dan persis seperti sebelumnya?  Ini semua akan mengalami kekembalian yang sama, semacam siklus, karena tidak adanya surga dan neraka?.

Kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan itu, tapi darimana kakaknya bisa mengucapkan kata-kata itu dengan yakin bahkan disaat ia sekarat di depan istri dan anak-anaknya?
Bukankah kekembalian yang sama itu bisa mengerikan, seandainya semuanya kembali lagi persis sama seperti yang dulu termasuk sarang semut di sudut kamarku ini? Bukankah mengerikan? Kita hidup mengharapkan surga, tapi nanti kalau yang kita peroleh kita hidup seperti ini lagi dan tak terbatas berlangsung terus menerus?

Bayangkan saja, kita hidup seperti ini saja sudah lelah dan harus menjalani yang seperti ini lagi dan persis tahapnya sama.

Di satu titik jenuh perenungan, intuisi seni Rony berkata, “Aku ini seniman, orang yang selalu hidup untuk mengkosmoskan (mengindahkan) apa yang ada dari drive dalam diriku, mengkosmoskan dalam sebuah wujud karya, tetapi aku tidak pernah berhenti dalam satu bahan, aku akan menggunakan bahan lain, aku siap mengacaukan diriku demi berhadapan dengan bahan lain untuk mewujudkan sesuatu lagi, meskipun bahannya berbeda-beda tetapi orang lain akan sadar bahwa itulah style gayaku sendiri”.

Dengan terus-menerus beranalogi seperti itu Rony mulai berpikir positif, bahwa ia harus mencintai hidupnya, membuat hidupnya bermakna lalu bersyukur sehingga ia mulai merasakan sedikit kebahagiaan dalam hidupnya.

“Toh kalau aku harus mati dan hidup kembali dalam keadaan yang sama persis seperti sekarang, aku akan senang karena hidupku sekarang sudah berbahagia dengan diriku sendiri, lagipula nanti aku tak akan sama persis dengan sekarang, aku seniman, aku akan selalu mencoba sesuatu yang baru namun tak mengubah diriku, Bukankah itu menyenangkan?”.

Tiga tahun setelah melakukan pameran tunggal, popularitas Rony semakin melonjak. Karya-karyanya dipamerkan keseluruh penjuru negeri dan di beberapa penjuru dunia. Namun kesehatannya mulai menurun, ia didiagnosa menderita tumor otak persis seperti Ayah dan kakaknya.

Di desa itu, di rumah studio seninya itu dia terbaring lemah, adik perempuan, saudara, dan kerabat dekat menemaninya. Keningnya tampak berkerut seakan menahan rasa sakit kepala yang luar biasa, namun ia pergi dengan tersenyum, tak mengatakan sepatah katapun

Dan ………

Di beranda rumah itu, tampak seorang pemuda duduk di kursi goyang sembari mendengarkan alunan musik Jazz dari alat pemutar musik tuanya, merokok sebatang cerutu dan meminum sebotol bir khas penyulingan desa. Ia menikmati sepinya suasana desa menjelang matahari terbenam. Suasana desa tampak sepi, tak ada satupun kendaraan maupun pejalan kaki yang melintas di jalan tak beraspal, jalan tanah kering berwarna coklat yang menanjak lalu menurun menuju bibir pantai sepi berpasir putih.

2 responses to “Repetisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s