About some Rockstar Stereotypes

image

Ketika kita melihat seorang rockstar beraksi diatas panggung, pikiran kita tertuju pada banyak hal.

Mulai dari atribut seperti pakaian yang dipakai rockstar itu, gear peralatan musik yang dipakai hingga background gaya hidup dan kehidupan pribadi sang rockstar.

Kita bisa dengan gampangnya menilai “ih gila rocker itu kok kuat ya dua jam lompat-lompat, wah pasti make tuh”, “ih mana badannya penuh tatto kaya preman ya” atau “ah kalo rocker itu mah sukanya mabuk dan seks bebas” dan komentar lainnya.

Sebagian orang menilai negatif terhadap profesi musisi yang menekuni genre rock, metal atau katakanlah “rockstar”.

Sedangkan saya sendiri menilai rockstar adalah sosok yang mampu mengutuhkan dirinya, percaya diri dengan kemampuannya terlepas dari katakanlah dia orang baik atau jahat.

Well, setiap pencapaian yang berhasil dicapai oleh seseorang pasti ada usaha. Kita nggak tahu gimana usaha sang rocker untuk sampai di titik puncak karirnya. Saya rasa hal itu juga berlaku dalam semua profesi.

Taruh saja begini, kalo anda ingin menjadi tentara kira-kira skill dan peralatan pendukung apa yang anda butuhkan? Body Building? Jelas!. Rambut Cepak? Tentu!. Attitude dan tekad yang tinggi? Sudah Pasti!. Kedisiplinan? Harus!. Cinta Bangsa dan Negara? Apalagi!. Atribut Seragam? Yo`i. Peralatan Perang? Wajib!

Ya! Sama seperti para rockstar yang beraksi diatas panggung itu. Kalo anda ingin menjadi rockstar kira-kira skill dan peralatan pendukung apa yang anda butuhkan? Skill bermain musik? Jelas!. Ciri khas dan tekad yang tinggi? Sudah Pasti!. Memiliki passion seni dan musik? Apalagi!. Penampilan Oke? Yo`i. Peralatan Musik? Wajib!. Disiplin? Tentu!.

Disiplin?

Lhoh tapi kok rocker-rocker itu kelihatan slengean dan mabuk sana-sini gak jelas gitu deh, terus disiplinnya dimana?

image

Begini, seorang seniman atau katakanlah orang yang bekerja dalam bidang kreatif/industri kreatif memang memiliki sisi kelam yaitu berhadapan dengan stress, frustasi bahkan beberapa artist juga mengidap skizofrenia (penyakit kejiwaan).

Sebuah penelitian skala besar selama 40 tahun yang dilakukan oleh Karolinska Institutet, Swedia, akhirnya menemukan sebuah kaitan antara kreativitas dengan gangguan kejiwaan secara tidak sengaja. Para peneliti menemukan bahwa mereka yang memiliki profesi kreatif adalah penyumbang pasien terbanyak dalam perawatan klinis gangguan kejiwaan. Mereka juga menemukan bahwa bila di sebuah keluarga besar ada orang-orang yang berprofesi sebagai ilmuwan atau seniman, termasuk penari, peneliti, fotografer dan pengarang (termasuk filsuf, jurnalis dan penyair), kasus depresi bipolar pun pasti ditemukan. Para pengarang rentan terhadap skizofrenia, depresi, gejala kecemasan dan penyalahgunaan substansi, mereka juga memiliki kecenderungan 50% lebih tinggi untuk bunuh diri bila dibandingkan masyarakat kebanyakan.

Nah ngeri juga kan? Oleh karena itu dibutuhkan sebuah “terapi” untuk meredam segala tekanan yang dihadapi sang artist ketika ia terjun dalam berkarya. Beberapa terapi itu mungkin diantaranya bersikap slengean, santai, ngomong ngawur kepada orang lain, arogan, kadang suka seenaknya dan mungkin terapi itu juga bisa berupa “minum-minum”.

Rockstar mungkin identik dengan alkohol baik ketika menulis musik maupun tampil diatas panggung. Namun mereka melakukan hal itu bukan tanpa alasan, mereka melakukan itu untuk melepaskan dirinya dari hal-hal yang sudah biasa, mereka melakukan hal itu untuk “berpikir dan mencipta diluar batas kewajaran”, dalam hal ini alkohol mungkin bisa sedikit membantu mereka atau justru melindungi diri mereka dari stress ketika berkarya. Daripada stress dan nggak menghasilkan apa-apa lebih baik “ngedan” tapi tetap fokus dan disiplin dalam berkarya to? 😀

image

Tapi tidak semua rockstar seperti itu lho ya!. Beberapa musisi rock malah memilih bergaya hidup sehat, menghindari konsumsi alkohol, menjadi vegetarian, melakukan Yoga, memeluk Buddha dan lain sebagainya.

Mungkin semua orang punya caranya masing-masing dalam berkarya maupun menghadapi permasalahan dalam hidupnya.

image

Bagaimana dengan free sex and rock`n roll?

Saya pikir, itu hanya bisa-bisanya aja deh para rocker itu menjual kebebasan sebagai produk dagang mereka. Kalau seorang artist rock itu memang memiliki kharisma yang begitu hebatnya dalam menarik orang lain untuk bersenggama dengannya saya pikir si rockstar itu akan “pilih-pilih” orang untuk tidur bareng deh.

Gampangnya gini deh, kalo rockstar itu adalah varietas unggul diantara ratusan komoditi yang ada didalam lingkarannya, pasti dia akan mencari komoditi yang bercirikan varietas unggul pula. Itulah yang menjadikannya pilih-pilih pasangan.

You see, “pilih-pilih” pasangan itu kan bukan berarti seks bebas, dalam artian mereka masih menginginkan adanya sebuah “ikatan” baik sebelum “tidur” maupun sesudah “tidur”. Apalagi bagi seorang pekerja seni yang sangat mengedepankan aspek kepekaan, rasa, sensitivitas batin/hati (pekerja seni itu orang sensitif). Jangankan mau mainin perempuan, orang sensitif kalo disinggung sentimen sedikit aja kan langsung stress karena apa-apa langsung dimasukin kedalam hati. Nah karena sensitif itulah makanya para seniman bisa menangkap berbagai macam keadaan, situasi disekitarnya kemudian mentransformasikan kedalam wujud karya. Jangan salah kira, justru artist rock itu bisa saja hatinya lembut dibalik semua penampilan sangarnya karena kerap melakukan olah batin untuk menghasilkan karya.

image

Bagaimana dengan kedekatan para artist rock dengan drugs dan obat-obatan terlarang, bukankah itu merupakan contoh yang buruk?

Mungkin setiap orang yang memiliki profesi dengan jam kerja yang tinggi kerap menggunakan doping, dalam artian dosis pemakaian obat diawasi ketat oleh dokter.

Nah begitu juga dengan para artist rock itu, coba deh bayangin kalo kamu seorang rockstar yang sedang berada dalam aktivitas world tour yang padat. Hari-harimu dihabiskan dijalan, didalam sebuah bus, pesawat untuk menuju kota dan negara lain. Mending kalo sampe dikota dan negara itu cuman foto-foto pake tongsis terus jalan-jalan doang, enggak! Kamu harus manggung, harus kerja, konferensi pers, menjaga kesehatan dan penampilan kamu untuk show berikutnya. Nah capek to? Untuk itu rockstar butuh doping demi menjaga kondisi mental, pikiran dan kesehatan yang selalu stabil.

Pemakaian obat tertentu juga bertujuan untuk menjaga kondisi mental yang optimal agar percaya diri, jangankan buat tampil di hadapan ribuan pasang mata, lha wong tampil dihadapan anak sekelas nyanyi potong bebek angsa aja udah gugup keringat dingin kok, apalagi main musik diatas panggung besar? Nah loh!

Kecuali jika pemakaian obat-obatan itu sudah melebihi batas kewajaran dan si pemakai sudah ketagihan bahkan mengkonsumsi nya sampai overdose dan modar, wah kalo itu namanya SEMBRONO dan si pemakai mungkin sudah bosan hidup 🙂 .

Ah tapi masak sih para rockstar itu pemakai drugs, doping dan segala macemnya? Saya kira mereka sudah melatih pikiran dan mental mereka sedemikian rupa untuk tampil dan bekerja. Mereka sudah mengembangkan teknik tertentu untuk menghadapi situasi genting sekalipun diatas panggung. Mereka sudah melatih tubuh, membentuk otot mereka sedemikian rupa sehingga dapat menghemat tenaga ketika menyanyi, bermain drum, gitar, bass dsb. Mereka pintar me-manage waktu istirahat, bekerja dan berkarya (walaupun ya sebatas manajemen ala seniman 😀 ). Saya pikir itu alasan yang cukup masuk akal kenapa para rockstar itu bisa kuat bertahan main musik selama dua jam diatas panggung.

image

Lalu bagaimana dengan atribut tatto, body piercing? Bagaimana dengan attitude rockstar yang terkadang antisocial dan lebih menunjukkan sisi gelap dalam dirinya?

Seperti yang sudah saya bilang diawal. Seorang Tentara akan terlihat sebagai seorang tentara darimananya? Ya dari seragam, dari body building-nya, kesigapannya dan sebagainya. Nah begitu juga dengan para rockstar itu !

Memakai Tatto, dan aksesoris printilan lainnya mungkin lebih bisa menunjukkan jati dirinya sebagai Rockstar bukan sebagai guru ngaji. Ya! Identitas itu penting, dalam hal ini : dalam sudut pandang music business. Seorang rockstar menempatkan penampilannya sebagai packaging dari produk yang dijual yaitu dirinya sendiri beserta karyanya. Seorang musisi dengan rambut gimbal, nyimeng mlulu lebih mencirikan dirinya sebagai musisi reggae. Seorang musisi dengan rambut gak jelas celana out of date, kaos oblong, gak pernah mandi mungkin bisa mencirikan dirinya sebagai musisi Jazz (walaupun sekarang di Indonesia musik Jazz sedang gencar digarap dan diarahkan dalam industri musik komersil sehingga musisinya bersih-bersih, cakep-cakep, cantik-cantik). Seorang musisi dengan sikap yang antisocial, berattitude dark, dingin, gahar, berpakaian serba hitam, tattoan dsb mungkin bisa merepresentasikan dirinya sebagai musisi rock atau metal.

Maksud saya gini lhoh, kalo kamu mau jualan katakanlah cendol sehat maka ya kamu harus mem-packaging cendol kamu sesehat mungkin kan?. Mungkin bisa pake ornamen dedaunan pada kemasan cendol kamu, atau malah bungkus pake daun asli biar memiliki positioning sebagai cendol sehat dan laku dipasaran, ya to?

Nah gak mungkin kan kamu taruh gambar ulet, paku atau gambar jin dikemasan cendol kamu terus kamu jual dengan konsep cendol sehat? Yo ndak laku! 😦 , kecuali psikologi konsumen dan penjualan sudah begitu sinting dan unpredictable 😀

Nah kira-kira begitu, kalo ente mau terjun ke music business, jualan karya musik rock ya penampilan ente setidaknya merepresentasikan hal itu juga. Kan musik juga bagian dari seni pertunjukan 😀 . Setidaknya penampilan ente ya layaknya rocker lah, jangan kayak guru ngaji atau orang baik-baik. Kecuali mungkin dimasa depan ada rocker syariah yang kalo dapet duit mereka bagi hasil 😀 hahaha

Begitu juga dengan attitude ente yang merepresentasikan diri layaknya rocker. Slengean dan gahar dikit gak papalah, jangan kayak orang baik-baik 😀 . Jadi wajar aja sih kalo rockstar itu memakai tatto, body piercing karena ya memang itu bisa menunjang profesi mereka.

Mungkin attitude rockstar yang terkadang antisocial dan lebih menunjukkan sisi gelap dalam dirinya itu lebih menekankan pada aspek kehidupan personal, bahkan bisa saja seorang rockstar itu sedang mengalami stress, kejenuhan dalam berkarya atau malah sebetulnya mereka bersikap demikian cuman untuk “packaging”, profesi dan jualan aja? Hmm …

Kebanyakan Rockstar yang sukses itu kan basic pendidikannya buruk, putus kuliah dan putus sekolah, kenapa bisa sukses ya?

image

Kalo melihat perkembangan sains dan art sih memang orang-orang besar yang ada didalamnya adalah orang yang berhasil mengkaji, mempelajari teori kemudian ia berhasil meretas dan menjebol teori tersebut untuk menciptakan sesuatu yang baru.

Banyak ilmuwan yang sukses tanpa sekolah, karena ia berhasil menciptakan sesuatu yang baru, yang beda tapi dapat diterima publik. Begitu juga dengan seorang rockstar.

Nah rockstar sejatinya seorang seniman, seorang kreator yang bisa meretas sistem, yang menjebol dinding-dinding penyekat batas realitas dan imajinasi. Musik yang mereka buat sebetulnya melenceng dari dasar musik klasik, teknik bermain musik yang mereka pakai sebetulnya tidak ada di buku teori. Nah tetapi ketika kita melihat mereka memainkan musiknya, kenapa kok bisa begitu mendebarkan, menarik dan indah ya? Nah loh …

Mungkin Rockstar tidak membutuhkan sesuatu yang sifatnya begitu melembagakan mereka, dalam artian mengkaji sesuatu sesuai dengan prosedur dan nggak boleh melenceng dari pattern atau kaedah keilmuan, contohnya ya seperti kuliah 😦 hehehe #curhat .

Tapi iya juga sih, pendidikan itu sebetulnya hanya ingin mencetak kita dengan sistem tertentu. Dan apa yang terjadi? Terkadang orang-orang lulusan universitas malah sulit mencari pekerjaan karena ketika belajar dikampus ia terlalu membenamkan diri kedalam sistem, ia begitu percaya dengan sistem dan ketika lulus ia tidak mengerti apa yang harus diperbuat untuk melanjutkan hidup, karena realitas hidup pada dasarnya ya masih hutan rimba, didalam kehidupan nyata tidak ada sistem ini-itu seperti dikampus yang serba disiplin dengan prosedur-prosedur tertentu. Justru kalo rockstar-rockstar itu pada kuliah mungkin gak bakalan ada genre-genre musik baru baik yang marginal stream atau mainstream 😀

Oke, saya kira cukup deh sesi posting kali ini, jangan ragu untuk berbagi pendapat di kolom komentar 😀

3 responses to “About some Rockstar Stereotypes

  1. Dulu pernah nge-band. Aliran Rock, Classic Rock, dan pernah nyentuh Hardcore juga. Pemakaian obat-obatan di kalangan anak band itu karena mereka grogi, malu, takut salah sewaktu tampil, jadi setelah pake obat-obatan dalam tanda kutip itu mereka jadi cuek bebek dengan sekitarnya… Ngomong ngawur-ngawur, dan sanggup head bang 3 jam non-stop, gile ga tuh…

    Sebenarnya ga pake obat bisa aja, tapi itu akal-akalan mereka aja cari alasan biar bisa make obat. Sama juga dengan minum miras, berasa udah keren dan tangguh kalo minum miras, tapi sebenarnya mereka minum miras itu biar mereka ‘di anggep’ sama komunitasnya. Kalo ga minum miras, ga keren, ga nge-rock… Ck ck ck…

    Ah jadi kepengen nge-band lagi deh… sayang umur udah tua… hehehehe…

    Like

    • Asik nih nyentuh hardcore juga 😀

      Ya kadang kalo yang gitu-gitu sih relatif ya mas Aji, ada yang gaya hidupnya sehat dan acak-acakan juga hahaha. Tapi seharusnya pemain musik itu harus sehat ya 😀

      Yuk ngeband lagi mas Aji, bikin band rock yang kaya nutrisi dan protein, 4 sehat 5 sempurna hahahaha

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s