Tentang Kehidupan Beragama di Indonesia

image

Tahun ini adanya berita soal warung di Serang, Banten yang dirazia satpol PP sempat mengejutkan para awak media. Warung nasi milik Ibu Saeni dirazia karena dianggap mengganggu peribadahan, yaitu berjualan di saat pemeluk agama Islam sedang menjalankan ibadah puasa.

Berbagai macam polemik bermunculan, diantaranya tindakan tegas yang dilakukan oleh Satpol PP memang memiliki sebuah landasan yang kuat yaitu melaksanakan amanah Perda yang sudah disepakati bersama.

Tidak sampai disitu saja, muncul gerakan simpatik berupa gerakan penggalangan dana untuk menolong Ibu Saeni di Serang, Banten ini. Ya ! Gerakan kemanusiaan yang bagus dan mampu menggerakan banyak orang untuk melakukan aksi yang sama.

Terlepas dari polemik kasus Warung nasi Ibu Saeni itu, ada hal menarik yang saya tangkap melalui kejadian ini :

Kenapa orang Indonesia bisa sebegitu perhatian, sebegitu ributnya apabila ada suatu peristiwa atau hal apapun yang berkaitan dengan agama?

Apabila kita menilik kembali masa lalu, sebetulnya sudah dari dulu nenek moyang kita tertarik dengan hal-hal yang berbau agama. Nenek moyang kita memiliki ketertarikan akan sebuah institusi maupun proposisi (dogma) untuk mengatur hubungan personalnya dengan Tuhan. Beberapa ajaran agama Impor pun mengalahkan beberapa aliran keyakinan seperti kejawen, sunda wiwitan, kaharingan, arat sabulungan dan aliran kepercayaan lainnya yang saya kira akan terasa lebih “pas” jika masih diterapkan dan diakui oleh pemerintah di Indonesia.

Belum lagi, satu hal yang unik tentang ribut-ribut masalah agama ini pada masyarakat Indonesia yaitu fanatisme beragama. Saya sering berjumpa dengan puluhan orang yang begitu militan, menyebut orang yang tidak seagama dengannya itu berdosa, masuk neraka dan sebagainya. Lhoh? Terus?.

Lalu kalo mereka memang berdosa apakah lantas mereka akan masuk neraka? Ya kita nggak berhak dan nggak pantas untuk menghakimi lah ! Apakah hanya karena berbeda agama dengan orang lain kemudian orang yang berbeda agama tersebut masuk neraka? Tunggu dulu … Bukannya itu terlalu naif ya?

Terlepas dari perkara ada tidaknya surga dan neraka. Bagi saya, hanya Tuhanlah yang berhak menilai kita akan masuk neraka atau surga. Pun itu, “Jika Tuhan ada”, kata orang Ateis.

Ya monggo, menurut saya sah-sah aja tuh punya keyakinan sendiri-sendiri tentang Tuhan, hidup dan alam semesta ini. Tapi tolong jangan “men-judge” orang lain hanya karena mereka berbeda keyakinan.

Bukan bermaksud untuk menggurui, tindakan men-judge orang lain dosa, orang lain salah dsb bagi saya ya itulah tindakan yang super biadab. Orang seperti itu sudah membuat neraka bagi dirinya sendiri melalui penilaiannya terhadap orang lain.

Lho kok neraka?
Iya neraka, karena orang seperti itu sudah memandang dunia ini sebagai tempat yang buruk, bahkan semua orang dinilainya sebagai orang yang berdosa hingga dirinya sendirilah yang merasa paling benar dan suci. Nah kan? orang seperti itu kan malah sedang menciptakan dunia sebagai neraka mereka sendiri?

Belum lagi sudah setahun ini yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah quote-quote bermuatan agama yang bermunculan di berbagai media sosial dan bahkan pada aplikasi chatting sekalipun.

Ini apa sih? kalo mereka memajang quote-quote agama di media sosial, apakah lantas hal itu membuat mereka menjadi pemeluk agama yang baik?

Atau orang seperti itu sebetulnya adalah sosok yang sedang mengalami krisis identitas?

Atau mungkin orang seperti itu adalah orang yang tak sepenuhnya utuh kemudian mencari sesuatu dari luar dirinya untuk mengutuhkan diri? Hmm …

Atau dengan memasang quote-quote agama membuat mereka menjadi lebih superior karena agama mereka misalnya merupakan agama mayoritas?, agama yang paling benar? atau bahkan agama yang paling pantas?

Bukankah pada hakekatnya agama merupakan hubungan personal kita dengan Tuhan? Lalu kenapa harus ribut dan dibawa ke muka umum? Atau bahkan sibuk mengurus agama orang lain?. Ah sudahlah, masyarakat Indonesia itu masyarakat komunal, hal apapun pasti akan dibawa dan dibahas pada khalayak ramai seperti yang dijelaskan pada post Identitas diri ditengah masyarakat komunal Indonesia

Di akhir tulisan ini saya berusaha beraspirasi pada rasa damai, mengambil jarak atas semua karut-marut kehidupan beragama yang terjadi di Bumi Indonesia yang indah ini.

Ada teks yang sepertinya patut untuk kita renungkan, berikut saya kutipkan teks yang ditulis oleh Prof. Dr. Bambang Sugiharto dalam blog pribadinya bambarto.blogspot.com :

“Iman bukanlah hanya perkara perasaan dan hati. Antusiasme perasaan yang berlebihan bisa berdampak mengerikan, apalagi bila agressi dihayati sebagai kesalehan. Dalam berhadapan dengan kompleksitas kehidupan dan peradaban , iman perlu juga dijernihkan dan dimatangkan oleh akalbudi. Hati dan perasaan pun perlu diasah dan dididik oleh penalaran. Meksipun sebaliknya juga benar. Tapi yang lebih pokok lagi barangkali adalah bahwa iman itu soal perbuatan, bukan perkara institusi atau pun proposisi (dogma). Dan agama, dogma atau pun kitab suci jelas bukanlah Tuhan itu sendiri. Mari kita semua senantiasa mencari kebenaran. Keyakinan berlebihan bahwa kebenaran ilahi sudah ada ditangan mudah sekali membuat kita merasa mampu membaca pikiran Tuhan. Dan itu hanya satu langkah untuk menganggap diri kita Tuhan itu sendiri, lantas dengan mudah kita mengadili dan menghukum yang lain”.

Bagaimana pendapat anda? Jangan ragu untuk berbagi didalam kolom komentar 🙂

Advertisements

3 responses to “Tentang Kehidupan Beragama di Indonesia

  1. Saya setuju dengan “mereka membuat neraka bagi dirinya sendiri”. Memang betul, itu beragama tapi tidak berTuhan, karena bagaimana mungkin mau mengenal Tuhan kalau belum-belum sudah marah atau menghakimi orang lain duluan? Org yang sudah kenal Tuhan dengan benar pun pasti jauh dari sikap menghakimi apalagi marah2 kepada liyan. Posting yang bagus dan sadar 🙂

    Like

  2. Jangan terlalu mempermasalahkan agama. Toh kita punya hak masing2 dan punya Tuhan masing2. Postingan ini sangat membantu tetapi alangkah baiknya jangan merendahkan dan memihak agama mana pun. Karena bagi saya postingan ini terlalu berlebihan untuk memperdebatkan masalah agama.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s