Menyikapi Si Tukang Komen

Pernah nggak kalian didalam sebuah lingkaran pergaulan menemui seseorang yang demennya komen mlulu? Iya komen mlulu perihal karya temannya, komen tentang apa yang dimiliki temannya dan bahkan selalu mencaci-maki pencapaian yang berhasil diraih oleh temannya sendiri.

Dan yang bikin kesel, si tukang komen itu didalam hidupnya dia nggak ngapa-ngapain, dia do nothing! Tapi lagaknya itu lho … Kayak dia udah do something aja!

Padahal dia bikin karya juga enggak, dia punya barang yang kita punya juga enggak, dia usaha juga kagak, yah nyinyir doang dia yang rajin, komen sana-sini.

Mending kalo komennya bagus positif gitu ya, nah dia kalo komen nyacat orang terus, mengejek temannya karena sebetulnya dia iri dengan apa yang berhasil diraih oleh temannya itu.

Mau digimanain coba kalo orang kaya gini? Disindir halus nggak kerasa, dibilangin juga percuma, dimarahin kok kasihan, dipukul ntar dia nuntut, diracun sianida ntar kita jadi terdakwa, dijauhin ntar dia semakin mendekat, duh #mumetndasku

Terus gimana dong ngadepin orang macem gini? Masak iya kita harus ngomong dari hati ke hati terus bilang :

“Maav mz kita cukup sampai disinih ajah yach” 

atau 

“Maav mz kamuh terl4lu b4ik bu4t aqyu”.

Hhhhh orang tukang komen kek gitu ngana beri hati, ngelunjak deh tu orang

Terus gimana dong ngadepin orang tukang komen macem gini?

Well, segalanya bisa terjadi karena ada trigger-nya. Bisa jadi karena kamu “show off”  maka si tukang komen ini jadi nyinyir ke kamu dan bahkan cenderung memusuhimu.

Ah tapi masak iya sih didunia ini kita nggak boleh nunjukin kemampuan?, masak sih kita nggak boleh nunjukin apa yang kita punya?, masak sih kita nggak boleh nunjukin pencapaian kita kepada khalayak ramai dan dunia? Terus gimana coba?

Apa kita harus nurutin keinginan si tukang komen itu? Hmmm aku mau kasih jawaban, tapi tunggu dulu …

Ada orang bijak a.k.a tukang komen yang bilang gini :

“Jadi orang tuh yang low profile, kalo punya kemampuan tuh ya dibagi-bagi, kalo punya harta jangan suka pamer, hidup itu untuk berbagi!”

Ah … Itu statement orang bijak apa orang sok bijak sih? Omongan macem pasaran kek gitu sih cuman omongan orang yang gak punya bakat!. Karena dia nggak punya bakat dan nggak bisa show off ke orang lain, makanya dia bilang “jadi orang tuh yang low profile bla…bla…bla…” kayak begitu supaya orang lain nggak nunjukin kebolehannya dan dia si tukang komen itu nggak tersaingi!.

Kayanya udah nggak ada lagi deh ya manusia bijak dijaman sekarang dan dimuka bumi ini (kalo di planet mars ada kali ya). Cuman orang-orang Narsis doang kali ya yang jadi motivator, komentator, buldozer, main vacuum cleaner sama bu dokter.3gp #ehhhh

Pesan untuk orang yang tersakiti oleh si tukang-tukang komen :

Selamat! Kamu adalah role model didalam lingkaran pergaulanmu. Si tukang-tukang komen itu sebenarnya sedang iri sama kamu!, yang perlu kamu lakukan adalah teruslah berkarya, teruslah pamer, teruslah tebar pesonamu, pancarkan cantikmu (lhoh kok iklan? 😀 ).

Intinya yang perlu kamu lakukan adalah jangan pernah berhenti menjadi dirimu sendiri walaupun orang lain berusaha menghentikanmu bahkan memusuhimu. Hancurkan si tukang komen itu dengan kompetensi dan kualitas dirimu !.

Karena pada dasarnya si tukang komen itu sebenarnya orang yang iri dan nggak punya bakat sama sekali. Jadi yang perlu kamu lakukan adalah pelajari dan praktekkan ilmu showmanship yang baik dan buatlah si tukang komen itu jadi tambah memusuhimu! hahaha. Yang jelas hancurkan si tukang komen itu dengan kompetensi dan kualitas dirimu !.

Pesan untuk para tukang komen :

Nggak perlu lah ya didalam pergaulan kita jadi bad person and the bad guy. Nggak usah lah ya kita komentarin orang sampai dia takut buat nunjukin siapa dirinya yang sebenarnya, nggak usah lah ya maksain orang lain untuk jadi pengikut kita (cem nabi aja maunya diikutin… ih narsis!).

Cukuplah kita didalam kehidupan sosial ini kita saling mendukung, saling waspada dan juga saling curiga (awas teman sebelahmu sukanya maling sempak). 

Kita memang makhluk sosial tetapi perlu diingat bahwa manusia juga makhluk individu, setiap manusia berhak mendapat perlakuan yang spesial, karena belum tentu lho apa yang berlaku bagi setiap manusia didalam elemen makhluk sosial nya juga berlaku didalam elemen makhluk individual nya.

Contohnya gini deh : Ada seorang wanita dalam bersosial kalo diejek didepan teman-temannya dia tertawa senang, tapi bagaimana dengan elemen dia sebagai makhluk individual? mungkin didalam hatinya dia sebenarnya nangis. Kasihan kan?

Nah kan, udah deh makanya nggak usah sotoy ngasih komen ke orang lain, ya ngasih komen bolehlah tapi yang positif-positif aja ya, lagian apa susahnya sih ngasih orang lain pujian sepatah dua patah kata.

Yang perlu kamu ingat sebagai tukang komen adalah semakin target komenmu itu kamu komentari, semakin dia kamu ejek, dia semakin termotivasi untuk maju dan mengalahkanmu hingga kamu termakan semua komentar burukmu terhadap dia. Nah malu kan?.

Jadi pesan untuk para tukang komen adalah : Bersahabatlah dengan musuhmu atau jauhi dia! Biarkan dia hidup tenang, biarkan musuhmu menjadi dirinya sendiri…

NOTE : Tulisan ini tidak dibuat untuk menggurui dan mengajari, tulisan ini juga merupakan sindiran dan introspeksi diri dari penulis.

Advertisements

24 responses to “Menyikapi Si Tukang Komen

  1. Mungkin yg tukang komen itu pengen diperhatikan. Kalo nggak komen sana-sini kan mana ada yg perhatiin. Kasian sama dia ya sebenarnya, cari perhatian sampe segitunya. 😀

    Like

    • Betul Grant, lagipula sulit ya ngasih kasih sayang ke orang-orang caper kaya gitu, yang ada kalo dibaikin juga ngelunjak, yah namanya juga kehidupan sosial, banyak dinamika-nya ya 😀 .

      Kalo Grant sendiri gimana nyikapin para tukang komen kaya gitu?

      Like

      • Kalo aku sih biasanya tanggapin dgn bilang “ooh”, “he-eh”, “o gitu”, sambil liat kanan kiri dan berlagak sibuk. Sebisa mungkin nggak mau tanggapin dgn kalimat, soalnya biasanya bisa tambah panjang komentar dia. Kalo dimedsos paling balas dgn emoticon ” 😀 ” aja.

        Like

  2. Saya setuju dengan pendapat penulis yang mengatakan “Ada seorang wanita dalam bersosial kalo diejek didepan teman-temannya dia tertawa senang, tapi bagaimana dengan elemen dia sebagai makhluk individual? mungkin didalam hatinya dia sebenarnya nangis.”

    Tiga tahun lalu saya pernah down sekali dengan komentar nyinyir dari teman-teman. Niatnya mereka becanda, tapi mereka nggak tau begimana itu di hati saya.

    Like

  3. Si tukang komen…. Langganan aku nih mas Dwii wkwkwk, selalunya org yg keseringan dikomenin malah khawatir untuk nunjukkin siapa dirinya sbenernya, krna ya itu tadi takut dikomen aneh aneh krna pikiran si tukang komen ini udh terlanjit aneh aneh 😂😂😂😂😂

    Liked by 1 person

  4. Ini renungan yang bagus. Barangkali kita semua juga pernah secara tanpa sadar melakukannya. Di mata kita mgkn biasa, tapi di mata org yg ndengerin bisa terasa menyengat. Tapi yang saya amati kebiasaan murid-murid saya di kelas juga begitu: temannya njawab, diikomen beramai2. Pas giliran ditanya malah diam. Jadi ada benarnya mereka hrs introspeksi diri ya.

    Like

    • Iya Pak, saya juga kadang ceplas-ceplos ngeluarin uneg2 tanpa difilter dulu hehehe.

      Wah iya Pak, itu tipe2 mahasiswa jaman sekarang hehehe, dikampus saya juga gitu. Kasihan yg punya pemikiran sendiri & pendapat sendiri dipaksa untuk ikut suara mayoritas 😦

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s