Kuliah dan Musik, antara Passion, Prospektif dan Realita

imi09-2.jpg

Sumber Gambar : klinikdrum.com

Pada post kali ini saya akan membahas tentang kuliah dan musik antara Passion, Prospektif dan Realita

Ya lebih tepatnya post ini akan membahas tentang keinginan seseorang untuk kuliah musik namun ternyata dia harus menghadapi kenyataan bahwa untuk hidup didunia yang keras dan penuh dengan pertimbangan prospek ini, dia tidak dapat hanya mengandalkan satu skill saja.

You know-lah, bagaimana rasanya kalo dunia mengatakan padamu bahwa, “Situ bisa main musik doang? Come on! Grow up! itu nggak cukup buat bertahan hidup!”. Ya begitulah, hidup ini tuh aneh! Seakan-akan apa yang ada didalam diri kita yaitu passion selalu dibenturkan dengan prospektif untuk kemudian dibanting bahkan diremukkan oleh realita.

Post ini saya tulis karena timbulnya keresahan dalam hati saya dan keresahan didalam celana dalam saya. Ya itulah hidup, terkadang kita merasa resah, resah panas dalam minum ademsari.

Oke, akan saya ceritakan dari awal deh ya …

Setiap dari kita terutama bagi dedek-dedek yang baru lulus SMA kan biasanya bingung tuh pilih tempat kuliah. Bayangin aja, diantara banyaknya jurusan kuliah, dedek-dedek harus pilih salah satu juruan yang menurut dedek jurusan itu tuch “Gue banget!”. Bingung kan? Coba deh Dedek tanya Mamah Dedek, yang ada juga dia jawab gini : “Mamah Tau Sendiri!”.

Ya begitulah dek, kadang orangtua itu nggak bisa ngasih solusi, kadang orang tua juga nggak mau tahu apa keinginan kita ya? Termasuk apa keinginan kita untuk kuliah di jurusan tertentu misalnya. Boro-boro ngerti, dibiayain kuliah pun syukur dek 😦 …

Oke balik lagi ke cerita awalnya, dulu waktu saya masih kecil dan ditanya temen, “Heh bro lu mau kuliah dimana?”, ya saya jawab mau kuliah musik di Berklee College of Music dong. (Songong banget, ta* lu, kuliah normal disini aja kagak lulus-lulus ! hahaha)

Kesannya memang menghayal tingkat dewa sih, mengingat Berklee College of Music itu kan di Boston USA, sedangkan saya waktu tinggal itu suatu tempat di Indonesia dengan bakat musik ala kadarnya, paling juga bisa main lagu pok ame-ame belalang kupu-kupu doang belagu mau masuk berklee …

Well, ada alasan kenapa saya tergila-gila dengan Berklee College of Music …

Ada apa sih di Berklee? 

Berklee College of Music terletak di kota Boston, adalah sebuah perguruan tinggi musik terbesar di dunia. Dikenal sebagai sekolah musik , berklee school of music juga menawarkan tingkat kursus perguruan tinggi dalam berbagai macam jenis musik, termasuk hip hop , reggae , salsa , rock , blues , dan metal , .

Well, Berklee College of Music itu gudangnya musisi-musisi hebat dunia lho, sebut saja John Mayer. Kamu tahu kan John Mayer?

John Mayer sempat kuliah di berklee walau tidak selesai karena memilih fokus pada karir musiknya :

Atau sebut saja Mike Mangini, drummer dari Dream Theater yang merupakan Alumni Berklee College of Music dan sekarang menjadi dosen di Berklee College of Music :

Dari Indonesia juga banyak lho alumni Berklee College of Music, sebut saja drummer favorit saya yaitu Mas Rayendra Sunito 😀 :

Siapa lagi ya? Banyak deh, kalo drummer yang baru-baru ini lulus dari Berklee dan mainnya sangar itu menurut saya Arthur Kam.

Arthur Kam itu drummer Malaysia yang menurut saya dia main drum chops-nya sangar dan ngeri pake banget gan. Nih simak, dia nge-drum nya nge-soul banget deh ampun ! :

Oh iya ada lagi mahasiswi berklee yang kagumi kecantikannya eh musikalitasnya, namanya Maddie Jay, doi ambil major bass dan bersama sohibnya doi bikin grup namanya Maddie Jay & pH Collective. Musiknya gimana ya, asik sih, susah deh digambarin pake kata-kata, mending langsung lihat aja deh kecantikannya eh musiknya  :

Gimana? masih kurang bukti kalo Berklee College of Music itu gudangnya musisi jago? Nih ada satu lagi grup alumni berklee yang menurut saya wow banget main musiknya, grup itu namanya The Glove dan saya paling suka komposisi musiknya. The Glove menjadi top 5 finalist di ajang musik aransemen bergengsi di USA yaitu Strange Arrange. Nih tonton kehebohan abang-abang The Glove :

Ya begitulah, itu semua hanya kekaguman saya pada sebuah institusi musik yang begitu hebat dalam meng-create musisi yang menurut saya begitu hebat.

Saya kagum sampai punya cita-cita untuk masuk berklee, but helloowww??! …bahasa inggris saya tuh javanesse-english, daripada bikin mumet orang sono mending saya cancel dulu deh. Saya belajar bahasa Inggris dulu dan tentunya belajar musik  dan ilmu lain juga disini baru deh apply ke Berklee (kelamaan kali mz!!! keburu ubanan! 😦 )

Lagian bukan berarti kalo mau jadi musisi jago, sangar dan hebat itu harus masuk Berklee kan?

Lagian bukan berarti kalo mau jadi musisi itu harus kuliah musik kan?

Ya maksud saya gini lho, belajar musik secara akademis itu penting tapi membangun karir musik juga penting. Contohnya ya kaya Mas John Mayer itu, dia kuliah di Berklee ambil intisari-nya doang, deketin dosen, minta ajarin materi penting terus cabut dari kampus, cari inspirasi diluar, nulis lagu, manggung dan membangun karir! Mantap!

Tapi sayangnya perjalanan musik mas John Mayer ga semulus itu, dia bahkan sempat kekurangan uang dan kerja jadi karyawan di sebuah Gas Station, ya begitulah hidup … (sok tau tentang hidup 😦 )

Bukan berarti saya bilang bahwa musisi tanpa bekal akademis itu baik lho, tapi ya namanya orang ya, kadang kan bosen juga belajar teori mlulu didepan partitur dan pengen langsung praktek membangun karir. Iya…, iya kaya kamu yang pengennya langsung praktek sama pacar kamu karena bosen liat bokep  mlulu #eh …..

Ya semuanya pilihan sih, kalian mau milih mana? kecuali kalo kamu pengen jadi akademisi di bidang musik ya kalo dalam konteks itu kuliah musik sampe sarjana itu penting dan mutlak banget kalo gitu hehehe.

Tapi bagaimana dengan kuliah musik di Indonesia?

Saat ini ada beberapa universitas dan institusi musik di Indonesia yang menawarkan Seni pertunjukan musik klasik dan Jazz. Tapi tunggu dulu … musik yang mana dulu nih? Apakah yang ditawarkan adalah jurusan musik kontemporer seperti di Berklee?. Nah setahu saya di Indonesia hanya ada beberapa Universitas dan Institusi yang mengadakan pembelajaran musik kontemporer lhoh, jumlahnya bisa dihitung pake jari, dikit! dan biaya kuliahnya selangit pula! Nggak enak lah kalo saya bilang disini.

Melihat kondisi seperti itu, sang anak yang hendak kuliah musik pun kemudian menggerutu kepada Ibunya :

“Hmmm gimana dong Mah? Dedek kan pengennya ngeband Mah!? main musik kontemporer, semua musik dari rock sampe jazz, bukan terbatas musik klasik atau Jazz, terus gimana? masak dedek harus jauh-jauh ke Boston sana buat kuliah?”, resah sang anak kepada Ibunya

“Ah sudahlah Nak, kuliah saja di jurusan yang lain, jadi pemain musik itu nggak harus kuliah musik kok …”, kata Ibu menenangkan hati anaknya.

Coba gimana kalo kondisinya kaya begitu? Sang anak harus menghadapi realita bahwa dia hidup di negara dunia ketiga, dia hidup di negara berkembang dimana kajian musik masih dianggap sebagai keahlian belaka, bukan ilmu ilmiah bahkan bermain musik dianggap sebagai sebuah dosa! … Haleluya … Negara macam apa ini … 😦

Tapi kalo kita berpikir logis, sebetulnya ada benernya juga lho apa yang dibilang Ibu itu kepada anaknya.

Gini deh, lagian banyak kok alternatif lain selain kuliah musik, kan perlu juga buat musisi untuk belajar ilmu lain lho, contohnya ambilah kuliah ilmu hukum. Siapa tau dengan belajar hukum situ jadi tahu celah-celah hukum dan malah jadi Lawyer dan nggak jadi musisi 😦 (sedih hati abang dek hikz-hikz). Bercanda lho hahaha!.

Ya siapa tahu dengan kuliah hukum situ bisa nyiptain lagu tentang hukum pidana pake musik dangdut yang bisa dinikmati orang awam hingga impact-nya orang awam jadi makin tahu tentang hukum pidana!. Wah itu terobosan baru lho!. Coba deh, lagu dangdut mana yang liriknya tentang hukum pidana? Nggak ada kan?. Tuh! Cobain aja gan, tapi besok ente ganti ya lirik “Bukak Sithik Joss” jadi “KUHP JOZZZ!” (BODOAMAT DAH GUE NGELANTUR HWAWAWHIHIHIXIXIXI)

Atau coba deh ambil kuliah jurusan psikologi misalnya, tentunya selain dikelilingi para mahasiswi cantik bin lemah-lembut yang paham kondisi psikis, kamu juga belajar tentang psikologi. Bisa aja kan karena belajar psikologi kamu jadi nyiptain lagu dengan pendekatan psikoanalisis sigmund freud. Wah innovative tuh! bakalan hitz tu lagu! Cewek-cewek sampe cabe-cabean langsung becek dah dengerin tuh lagu. “Hih aq basah bang, lagu kamu ngertiin perasaan aq bgt dech”, begitulah kata para cabe-cabean.

Jadi? Kesimpulan dari post ngaco bin nggak koherensif ini apa sih?. Ya intinya jangan merasa sedih gan walau posisi kamu sekarang mungkin bukanlah posisi yang kamu inginkan. Misalnya :

Kamu pengennya jadi musisi tapi kok kuliah di jurusan Fisika? Nggak masalah!

Kamu pengennya jadi dukun tapi kok kuliah di jurusan komputasi? Nggak masalah!

Kamu pengennya jadi penjahat tapi kok kuliah di Keperawatan? Nggak masalah!

Kamu pengennya jadi orang sukses tapi nggak ngapa-ngapain? Itu baru masalah!

Ah udahlah, bodoamat, situ cari kesimpulan sendiri ya. Saya nggak mau menggurui, saya nggak mau jadi orang yang sok tahu, mudah-mudahan post ini berguna, kalo nggak berguna ya setidaknya menghibur lah ya … Amen. GBU (Gue Butuh Uang).

Bais ya …

Materai 100 ribuan

(Dwiki Wijayanto Utomo)

Nb : Post ini ditulis untuk menghibur diri sendiri.

Advertisements

4 responses to “Kuliah dan Musik, antara Passion, Prospektif dan Realita

  1. Eh tapi Mas Dwik gue pikir kadang perlu bgt tuh org hukum dimusik. Doi tau banget soal HAKI, misal nyample lagu tanpa kena tuntutan, gitu-gitu. Musik belibet jg hukumnya klo dilihat2 hahaha

    Btw semoga tercapai ya cita-citanya masuk Barklee, siapa yang tau next lo sejajar sama mereka sbg alumnus Barklee. Keren!

    Like

    • Iya bang Edo, penting banget buat musisi belajar tentang hukum, biar wawasannya luas dan itu secara nggak langsung ngaruh ke karya juga ya hehe…. Makasih bro Edo, wah jangankan sejajar, bisa kuliah di berklee pun mukjizat hahahha

      Like

  2. Memang itu masalah klasik juga ya Mas: pingin kuliah di jurusan yang memang kita punya passion, tapi di lain pihak ada jurusan yang lebih prospektif dari segi karir dan uang, walaupun nggak diminati. Makanya banyak juga org2 muda yg kuliah di jurusan IT dan bisnis, tapi sebenernya atinya ndak kesitu. Tapi mau ambil jurusan lain, kendalanya kalau ndak direstui ortu, ya ndak ada yang sebagus di Berkelee. Ini sedang saya renungkan, mas, terima kasih postingnya.

    Like

    • Betul Pak, kadang kasihan lho Pak ada anak yg terpaksa keseret-seret kuliah di jurusan yg bukan passionnya dan potensi anak itu mungkin lebih kelihatan kalo dia menekuni bidang lain. Seperti post yang Bapak buat tentang mantan mahasiswa Bapak yg lulus kuliah malah jadi pilot hehehe, itu sungguh menginspirasi sekali Pak.

      Sebaiknya gimana ya Pak memilih antara passion main musik dengan prospek pekerjaan? Mana yg harus dipilih? Hehe, Karena saya juga sedikit heran kok di Indonesia sedikit sekali ya kampus yg mengusung program music performance/seni pertunjukan musik? Padahal peminatnya tuh buanyak lho Pak. Mungkin itu bisa jadi peluang buat Ma Chung University untuk buka jurusan music performance Pak hehehe.
      Terima kasih Pak

      Liked by 1 person

Leave a Reply to dwikiwijayanto Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s