Wanita Jaman Now

“Dia kan punya mobil banyak, bisnisnya juga cuan, tajir melintir gitu deh bo.. pokoknya dia tuh so cute banget deh …”, kata mbak-mbak yang sedang asik berbincang dengan temannya di sebuah coffe shop. Saya pun tanpa sengaja mendengarkan perbincangan mereka yang tak jauh seputar ngomentarin dan ngegosipin cowok-cowok di instagram.
Saya meminum Iced Shaken Lemon Tea yang tinggal sisa sedikit lagi, maklum saya alergi dengan kopi, jadilah saya menenggak teh di coffe shop dan saya tahu kalau sekarang saya punya alergi baru lagi! Ya! Saya alergi dengan mbak-mbak sosialita nanggung yang demen dandan sok berkelas tapi malah ngegosip di coffe shop.

ih … anjir, dia punya Mercedes E Class ame BMW apa nih buset bagus bener dah KELAS!”,  kata mbak-mbak itu lagi dengan nyinyir kegirangan. 

Saya pun langsung cabut dari coffe shop yang katanya kelas internasional tapi obrolan orang-orang didalamnya tak jauh beda dengan warung kopi di dusun sebelah kosan saya. Saya beranjak dari kursi lalu melanjutkan perjalanan kembali ke kosan, mengendarai motor bebek kesayangan yang ban luarnya mulai tipis sehingga saya harus berkendara dengan pelan.

Ditengah perjalanan, saya masih kesal, mbak-mbak sosialita itu merusak moment membaca saya di coffe shop. Jadilah buku Nietzsche dengan Thus Spoke Zarathustra yang saya beli di gramedia gagal saya baca secara khidmat.

Didalam perjalanan yang macet itu saya berpikir-pikir sampe kenthir. Beberapa wanita jaman sekarang tuh ya obrolan dan kelakuannya kadang sedikit menyebalkan. 

Ciri khas wanita jaman sekarang suka menuntut macam-macam, kerja sedikit saja sudah mengeluh macam-macam, maunya cuma dandan, pengetahuannya sebatas social media dan hang out di tempat-tempat hits di negara dunia ketiga ini.

Kalo “Wanita Jaman Now”  itu diprotes dikit waduh … Mereka sudah teriak macam-macam bak feminis yang sudah diinjak-injak pria seumur hidup.

Saya jadi bingung, kenapa sih wanita harus teriak-teriak minta haknya dipenuhi? Hak yang mana sih? Perasaan jaman sekarang posisi pria dan wanita itu sudah setara, pria bisa kerja jadi hair stylist di salon dan wanita bisa kerja jadi supir truk di jalur pantura. Nah terus hak yang mana sih yang mau wanita-wanita itu bela? Atau wanita kaya gitu cuman cari perhatian aja ya?

Yang lebih menyebalkan lagi kalau ketemu dengan wanita yang kelakuannya bak feminis, disentuh dikit sudah teriak-teriak keras, selalu menunjukkan ke-“aku” annya, sok patriotis dan memperlakukan pria seperti sampah. Wanita seperti itu selalu berlagak tak membutuhkan seorang pria tapi kalau malam menangis tersendu-sendu kepengen disayang pria *aduh… 😂. 

Nah akibat nangis tersendu-sendu galau karena pria, maka ya si wanita itu jadi makin kesal dan benci dengan para pria, nah karena kesal dan benci dengan para pria, maka dia punya semacam “kekuatan” untuk merubah rasa kesal dan benci itu menjadi sebuah “power” untuk melibas para pria. Nah lo …

Lhoh piye to jadi orang kok kontradiktif to mbak-mbak ? … Gedek-gedek aku dibuatmu..

Oh iya ada lagi wanita yang senang sekali menciptakan “jurang pemisah” antara pria dan wanita. Nah kelakuan wanita macam itu juga menyebalkan, pernah juga saya mengamati mbak-mbak dan mas-mas yang bertengkar hebat di warung bakso. 

“Kamu kan cowok! Masak kerja gitu doang ngga kuat?! Coba kamu lihat aku, aku nih cewek, aku kerja setiap hari tapi ngga pernah ngeluh”, kata cewek di warung bakso itu dengan nada tinggi yang berapi-api kepada mas-mas kurus yang tampak lemas tak berdaya

Alhasil semua mata pengunjung warung bakso itu tertuju pada mas-mas lemas yang konon suka memakan ayam kremes makanya jadi lemes.

Entah apa yang ada didalam benak mbak sadis itu, yang jelas dia menegaskan kalau seorang pria seharusnya lebih kuat dalam bekerja, lebih tabah dalam menghadapi tekanan kerja karena ya peradaban dunia ini kan dibangun oleh pria, pria-lah yang membangun peradaban dunia dan dunia ini dibangun dengan prinsip yang “manly”, maskulin dan jantan. 

Jadi ya kalau ada pria yang “kelihatan” lebih lemah dari wanita, maka habis sudah si pria itu dimaki-maki, dituntut dan dipermalukan oleh si wanita. Karena yang ada didalam benak seorang wanita : sudah seharusnya kekuatan seorang pria lebih kuat dari seorang wanita, karena pria-lah yang membangun dunia.

Tapi siapa bilang kalau pria lebih kuat dari wanita? Saya nggak tahu kuatan mana, mungkin ada yang bisa ngasih penelitian tentang hal ini …

Ya memang sih ada beberapa peradaban, budaya dan agama yang mengidealkan seorang pria untuk menjadi seorang pemimpin dan imam, tapi saya belum percaya betul dengan konsep pria lebih strong dari wanita …

Yang jelas mbak sadis di warung bakso itu sudah membuat jurang pemisah antara pria dan wanita. Hal itu berarti sudah selangkah lagi untuk mbak sadis itu menjadi seorang feminis tulen yang membenci pria

Menurut saya membuat perbedaan antara pria dan wanita itu adalah tindakan yang buruk dan hanya melahirkan peradaban yang cacat yang hanya menimbulkan masalah gender tak berkesudahan…

Daripada terfokus pada masalah gender yang kagak ade ujungnyeh ya mending kita fokus untuk membangun dunia yang ramah, yang bisa saling merangkul, sehingga tidak ada yang merasa direndahkan, terdiskreditkan, apalagi sampai harus membela dan teriak-teriak atas alasan gender, buat saya itu terlalu naif.

Ah… tapi tetap saja saya masih dendam dengan mbak-mbak di coffe shop itu. Buat saya, mereka cuman “korban” dari seorang pria gombal yang mengidealkan kecantikan yang harus begini-begitu, dan saya juga masih tak sudi untuk menjadi “korban” dari mbak-mbak di coffe shop itu, saya tak sudi ikut-ikutan membeli Mercedes-Benz E Class biar bisa jadi bahan gosipan mereka. Mending beli mobil-mobilan dan saya sumbangkan ke panti asuhan, supaya anak-anak kurang beruntung bisa merasakan kasih sayang, nggak kaya mbak-mbak di coffe shop itu… Amen.

Tapi ya sudahlah, setidaknya setiap orang boleh mengidealkan konsep gender yang aduhai romantisnya atau aduhai garangnya atau aduhai tajirnya, anggaplah itu hanya bumbu-bumbu peradaban kekinian yang kian memuja permukaan-permukaan penampilan *halah 😂. 

Akhirnya saya kembali kekosan dengan selamat, bersama ancaman ban motor yang minta diganti dan bayangan mbak-mbak di coffe shop … saya pun tidur dengan rasa damai …

Bandung, Januari 2016

Terimakasih, Tuhan Memberkati …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s