Masih Maukah Punya Anak di Jaman Sekarang?

Bagi kebanyakan peradaban di pelosok Asia, memiliki anak adalah sesuatu hal yang didambakan.

Bagaimana tidak? Lihat saja waktu lebaran, natal atau arisan keluarga. Pastilah anak dijadikan “trophy” oleh sang Bunda atau Ayahanda *halah

“ih anakmu ganteng ya jeng”, tanya Bu Maimunah kepada Bu Jubaedah

“Iya dong jeng, ini anakku baru saja lulus kuliah kedokteran, sudah ambil spesialisasi juga”, jawab Bu Jubaedah bangga sedikit jumawa

“Oh dokter spesialis apa?”, tanya Bu Maimunah sedikit iri

Dengan bangganya lagi Bu Jubaedah menjawab, “Dokter spesialis pijat urut …”

Ya begitulah Parents jaman old, namun bagaimana dengan parents jaman now? Masihkah teman-teman seusia antum ingin memiliki anak?

Mari kita bahas!

Jaman sekarang, tahun 2018 ini kita semua sudah banyak merasakan kekacauan, iklim dan cuaca yang mulai ngaco, polusi udara yang sudah demikian kotor, pembangunan tidak teratur dimana-mana, belum lagi pemerintah yang kacau balau.

Ditengah kondisi yang kacau ini, timbul banyak kekhawatiran calon Papa dan Mama muda jika kelak mereka memiliki anak.

Kekhawatiran itu diantaranya :

Yang pertama jelas karena kondisi alam, manusia dan pemerintah yang semakin tidak menentu. Rasanya tak tega jika nantinya sang anak akan hidup berdampingan dengan bencana alam, mengalami perang dan terus menerus dicurangi oleh pemerintahan yang korup.

“Kamu ndak mau kan kalo anakmu nanti hidup tapi sering ketiban genteng karena bumi yang kita pijak ini sering gempa dan tanah longsor merajalela?”, kata Santi ~ seseorang yang baru saja menikah

Begitu juga dengan Rio, pemuda asal Klaten yang baru saja melangsungkan pernikahan ini masih takut untuk memiliki momongan. “Saya cuman takut kalo nanti anak saya dijajah oleh Kim Jong Un, pasti sarapannya granat dan bubuk mesiu”, kata Rio menangis sesenggukan.

Yang Kedua, dimasa depan biaya pendidikan akan semakin mahal. Belum lagi sistem pendidikan yang masih semrawut, kurikulum yang kurang sesuai dan juga rasanya pergaulan anak sekolah semakin rumit.

Bagaimana jika nanti sang anak di bully habis-habisan di sekolah lalu tumbuh menjadi anak yang introvert cenderung suicidal, membenci orang lain dan dirinya sendiri? Nah lo! Mau nggak mau anda sebagai orang tua harus repot-repot membawa sang anak ke psikiater yang berarti?, biaya tambahan!

Lagipula merawat anak bukan hanya sekedar menyekolahkan saja. Sebagai orang tua, antum harus bisa mengenali bakat dan passion anak kemudian memotivasi jika sang anak merasa down, itupun antum harus menyalurkannya kepada pihak yang tepat.

Ente jangan bahlul ya! Punya anak didiemin aja, udah tahu anak punya bakat menyanyi … Eh malah dikuliahkan di jurusan Perdukunan, nah kalau sampai nanti sang anak tumbuh menjadi pribadi yang kecewa, putus asa dan tenggelam dalam kenikmatan narkotika gimana? Toh antum sendiri kan yang repot harus menyewa jasa Hotman Paris atau Otto Hasibuan demi membebaskan anak dari jerat hukum?

Yang Ketiga, biaya rumah sakit dan kesehatan yang semakin mahal. Bayangkan saja, dijaman sekarang ada banyak berbagai jenis varian penyakit. Tinggal pilih saja! Mulai dari meriang imut sampai penyakit lupus nan bikin mampus!

Bagaimana kalo sang buah hati terkena penyakit? Sungguh tak tega bukan? Belum lagi bagi kita masyarakat yang hidup di dunia ketiga macam Indonesia, masih banyak berbagai ancaman tak kasat mata diantaranya santet, ilmu pelet, jaran goyang dan lain-lain.

Apakah anda tega jika sang buah hati mengalami salah satu penyakit tersebut? Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Suparman Panggabean.

“Saya tak tega kalo kelak anak saya sakit dan harus berobat ke klinik Tong Fang karena biaya pengobatan konvensional sudah terlalu mahal”, ujar Suparman sambil gemetaran.

Begitu juga dengan pendapat Manda alias ci Ling-Ling, “Gue takut anak gue jadi seekor mutant ha! Sekalang jenis penyakit makin aneh aneh ha! Tidak ada Sinshe yang bisa ngobatin”

Pertimbangan Yang Keempat, adalah harga properti tempat tinggal yang semakin mahal. Sebagai manusia beradab anda harus banyak berpikir ulang sebelum memiliki anak, diantaranya menyiapkan tempat tinggal yang layak untuk keluarga anda (kecuali anda adalah sejenis Feni Rose yang punya banyak Apartemen di pinggir pantai bikin kapok).

Kamu ndak mau to kalo nanti besarkan anak di atas pohon?

Harga properti makin mahal, anda harus memiliki pekerjaan yang proper sebelum memiliki anak, minimal untuk menyicil rumah yang layak. Berat sekali bukan? Ya jelas berat! Apalagi untuk lulusan Sarjana S1 dengan pekerjaan yang kembang-kempis. Oleh karenanya persiapkan matang-matang sebelum memiliki momongan.

Pertimbangan yang Kelima, ini adalah pertimbangan yang paling krusial. Bisakah anda sebagai orang tua menjamin kalau kepribadian anda tetap waras ditengah dunia yang kian bersaing dan saling menyikut satu sama lain?

Kalau anda tidak bisa menjamin kewarasan pikiran anda sendiri, mending tunda dulu niatan untuk memiliki anak. Bagaimana kalau nanti anda menyiksa anak anda sendiri? Siksaan tentu tidak hanya berupa siksaan fisik, bahkan ancaman atau sindiran halus pun bisa saja menyiksa batin sang anak.

Atau bisakah anda dan pasangan anda tetap waras untuk menjaga keharmonisan hubungan dihadapan anak? Nyatanya ada banyak pasangan suami istri yang tidak tahu malu untuk ribut didepan anak. Nah kasihan anaknya kan? Jangan salahkan anak kalau dia ikut bergabung dengan organisasi teroris atau terlibat dalam jaringan kejahatan internasional, lha wong Ayah dan Bundanya saja kelakuannya ndak waras kok …

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh Supardi Matulesy, “Aku cuman takut kalo suatu saat diriku berubah menjadi pribadi yang kurang waras, akibatnya aku suapin anak pake mendoan campur uranium dan bahan peledak lainnya. Kan gawat!”

Keputusan memiliki anak bukanlah keputusan yang asal-asalan, perlu rencana, plan dan bahkan masterplan. Yang perlu diingat adalah anak juga makhluk hidup seperti anda sekalian, yang memiliki keinginan, hasrat, akal dan budi. Anak bukan sekedar sesuatu yang keluar dari rahim akibat hubungan seksual lima menit saja!

Peradaban manusia di bumi ini adalah peradaban yang luhur, jangan nodai peradaban luhur ini dengan keinginan naif untuk terus menerus kawin dan memiliki anak. Isilah peradaban ini dengan berpikir panjang, mengesampingkan nafsu dan ego demi kemajuan manusia. Kelangsungan dan kualitas hidup manusia ada di tangan anda semua …

“Tapi mas, banyak anak kan banyak rejeki!”, kata Syamsudin dengan nada yang kurang berkenan kepadaku

Halah! Hari gini masih percaya yang begituan? …

Haduh …

Bye …

7 responses to “Masih Maukah Punya Anak di Jaman Sekarang?

  1. Kali ini aku terpaku dg tulisanmu Dwi 😂 beneran aku setuju dg tulisanmu ini bahwa mau punya anak itu sebaiknya ya harus di persiapkan secara mateng dulu. Jangan ikutan orang yg otaknya sekian dg berprinsip banyak anak banyak rejeki. Kasian loh anaknya 😂 aku tau banyak ortu yg mau punya anak sebagai investasi masa tua nanti. Mending kalo anaknya di sekolahin sesuai lah dg niatan. Nah ini dari SD aja anaknya di haruskan bantu nyari rumput buat makan sapi. Si anak sekolah sering bolos krn harus ambil buruh potong padi di sawah. Pas anak bisa nabung buat lanjut ke perguruan tinggi si ortu bilang buat beli sapi aja. Anak bersikukuh buat biaya sekolah eh si ortu bilang anak gak tau balas budi 😂

    Like

    • Thank you kak Irma 🙊. Wah sungguh tersiksa sekali kalau anak (mohon maaf) harus dijadikan “Mesin penghasil tenaga dan uang untuk orang tua”. Etika timbal balik anak kepada orang tua yang kurang sehat macam itu memang ciri khas wisdom Indonesia.

      Iya harusnya pemerintah bisa melindungi sang anak dan seharusnya ada peraturan terkait izin memiliki anak dengan ketentuan tertentu misalnya : Gaji/pendapatan yang memadai, tes hasil kejiwaan (agar orangtua tidak melakukan KDRT terhadap anak dsb) serta pemerintah bisa membatasi jumlah kelahiran anak di tiap keluarga demi mengontrol jumlah populasi manusia yang nampaknya kian meningkat 😁

      Like

      • Susah lah 😂 Indonesia negara besar ya untuk mengkontrol hal hal seperti itu tidaklah mudah. Di cina sudah berlaku undang2 tiap pasangan hanya boleh memiliki 1 anak 😂 di indo masih penganut banyak anak banyak rejeki 😂

        Like

      • Iya sebetulnya angka jumlah kelahiran yang terlalu kecil juga berbahaya untuk sebuah negara, karena banyak negara yang terancam mengalami zero population (kepunahan) dimasa depan seperti Jepang dan Korea Selatan yang anak mudanya pada males punya anak 😂

        Tapi disisi lain, ada juga negara yang punya masalah dengan kriminalitas, gelandangan, tuna wisma karena jumlah populasi yang tidak terkontrol.

        Like

  2. Salut buat kamu yang berani membahas topik sensitif ini. Menurut saya di banyak kebudayaan anak juga merupakan bagian dari status sosial seseorang. Dan perlu diingat, bagi sebagian orang status sosial itu sangat penting, sehingga jangan heran kalau kita kadang melihat ada orang tua yg tampak kurang “qualified” menjadi orang tua, tapi tetap saja punya anak (banyak pula). Selain itu, pendekatan pemikiran seperti yang kamu paparkan di tulisan ini akan dianggap “terlalu banyak mikir”, karena yg diyakini banyak orang adalah:
    1. tiap anak bawa rezekinya masing-masing
    2. punya anak adalah “wajib”, bukan pilihan
    3. (dan ini yg paling klasik) punya anak aja dulu, soal nanti ya gimana nanti..
    Begitulah yg saya amati..

    Liked by 1 person

    • Betul sekali.. Saya setuju dgn komentarmu.. Yang perlu ditekankan adalah edukasi/kesadaran akan pentingnya perencanaan dalam hal membangun sebuah keluarga (salah satunya tentang punya anak) dgn pemaparan yg sederhana dan mudah dipahami. Anak adalah amanat dan tanggung jawab dari Yang Maha Kuasa, alangkah baiknya jika kita menjaga berkah yg telah diberikan itu dgn sebaik-baiknya..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s