Jer Basuki Mawa Beya

Jer Basuki Mawa Beya. Adalah pepatah dari Jawa yang mungkin sering kita dengar. Secara mudah, artinya adalah bahwa untuk selamat, beruntung, dan mulia, butuh biaya, pengorbanan dan kerja keras.

Di dunia yang kini ingin serba instan ini semua orang berlomba-lomba untuk meraup banyak keuntungan meskipun dengan sedikit pengorbanan. Sebagian banyak yang berhasil dan sebagian dari mereka yang berhasil ada yang merasa kalau keuntungan yang mereka dapatkan hanyalah keuntungan semu.

Banyak orang bilang kalau keuntungan yang sejati adalah kemuliaan yang didapatkan dari hasil kerja keras sendiri setelah banyak pengorbanan. Maka, mungkin tak heran kalau di dunia serba instan ini banyak orang kehilangan makna dari sebuah pengorbanan dan cenderung (lebay dan paranoid) menghindari kerugian.

Oleh karena itu ijinkan saya menyampaikan sebuah cerita tentang salah satu aspek pengorbanan untuk mencapai kehidupan yang beruntung yaitu uang.

Di sebuah negeri yang bernama Indonesia, ada dua Keluarga yang tumbuh bersama. Rumah mereka cukup berjauhan, meskipun tekesan baik-baik saja, tapi kedua keluarga ini sebenarnya bersaing. Terutama Keluarga B, yang sangat ambisius untuk menerapkan strategi bertahan supaya tidak kelihatan kalah dalam melawan keluarga A!.

Oh iya! Masing-masing keluarga ini sama-sama punya uang 10 Miliar sekian di rekening tabungan. Bisa dikatakan kemampuan ekonomi keluarga ini setara.

Di waktu yang sama, anak Keluarga A dan Keluarga B baru saja lulus SMA.

Keluarga A tipikal keluarga santai dan tidak takut mengivestasikan uang untuk pendidikan dan pergaulan. Karena keluarga A sadar untuk mendapatkan sesuatu yang berharga, mereka juga harus rela kehilangan uang yang berharga itu untuk mendapatkan sesuatu yang (mungkin) lebih berharga dari uang yang mereka keluarkan!

Berbekal prinsip itu, dengan mantap keluarga A ingin mengkuliahkan anaknya di universitas terbaik, kalo perlu kuliah di luar negeri sekalian wes!. Kebetulan anaknya berbakat dalam bidang videografi, kamera dan akting tetek bengek gitu, yo wes ga papa, asal anak senang yang penting orang tua dukung secara TOTAL! Akhirnya si anak dikuliahkan di San Fransisco Film School.

Sudah dikuliahkan, eh si anak Keluarga A itu dibelikan mobil dan sejumlah uang deposit buat keperluan biaya pendidikan dan pergaulan. Maka berkuranglah uang 10M tadi buat biaya kuliah si anak + biaya hidupnya.

Nah kalo begini, ada dua kemungkinan, bisa saja si anak tumbuh jadi anak nakal menghambur-hamburkan uang dan mengkhianati kepercayaan yang sudah orang tua kasih.

Atau anak itu tumbuh menjadi anak yang penuh syukur, ceria, diberkati dan TOTAL dalam mengejar impiannya, karena si anak itu tahu kalau orang tuanya mendukung habis-habisan BAKAT yang ia punya. Akhirnya ia belajar dan banyak bergaul karena memiliki banyak sumber daya (uang) untuk bergaul dengan teman-temannya.

Waktu berlalu dan setelah lulus, karena dukungan orang tua dan berkat pergaulannya internasional nya yang bonafit, si anak ini akhirnya berniat mencari sebuah naskah cerita yang bagus untuk dijadikan sebuah film dimana ia menjadi seorang film-maker.

Buat anak Keluarga A, menjadi film-maker bukan perkara semata-mata untuk mendapatkan uang, tetapi ini adalah perkara melakukan hal yang lebih besar dari dirinya sekarang.

Karena TOTAL, memanfaatkan semua Sumber daya yang ada (baik materi dan relasi pergaulan sana-sini) maka jadilah si anak itu seorang film-maker untuk film pertamanya!

Nah bagaimana dengan keluarga B? Karena keluarga B tipikal keluarga yang cukup takut untuk kehabisan sumber daya dalam bersaing. Maka mereka cukup takut juga untuk menghabiskan sumber daya yang mereka punya. Alhasil keluarga B ini punya watak yang segala sesuatunya harus di-irit-irit termasuk (apalagi kalau bukan) UANG!

Boro-boro kuliah di luar negeri! Anak keluarga B dikuliahkan saja di universitas negeri lokal yang dekat rumah saja!, yang penting kuliah dan supaya tidak keliatan kalah dibandingkan anak Keluarga A yang juga kuliah.

Anak keluarga B diharuskan mengambil jurusan yang umum semacam manajemen biar kalo lulus nanti bisa jadi pegawai mapan!

Setelah diterima lulus ujian test masuk universitas negeri, si Keluarga B ini bangga nya setengah modar, ndak peduli kalau si anak punya bakat desain atau videografi, WES yang penting diterima di Universitas negeri!. TITIK!.

Nah dimasa perkuliahan, anak Keluarga B hanya diberikan uang saku 20 ribu sehari! Itupun cuman untuk naik angkutan kota! Lha terus piye anak punya kebutuhan foto copy paper dan urusan keuangan kuliah lainnya? Ya utang saja ke temennya!

Orang tua tipe “bertahan supaya tidak kalah” macam ini hanya berpikir kalau anak kuliah yang tekun saja dan nanti setelah lulus diterima kerja jadi pegawai di kantor. Pokoknya gimana caranya supaya anak kelihatan mapan tapi dengan modal (uang) yang secukupnya saja! dan yang terpenting, anak mereka gak kelihatan kalah sama anak orang lain! Terutama anak dari Keluarga A!

Alhasil anak itu tumbuh di lingkungan itu-itu saja, habis kuliah terus pulang, tidak tertarik untuk bergaul dan merubah penampilan bahkan tidak ada modal untuk mengembangkan bakatnya

Yang ia pikirkan hanya lulus kuliah dan kerja untuk dapat uang banyak lalu meninggalkan orangtuanya yang pelit itu.

Waktu pun berlalu, si anak akhirnya lulus juga meskipun dengan nilai yang pas-pasan dan parahnya tidak ada kenangan indah tentang perkuliahan didalam benak si anak itu sampai-sampai ia tak punya relasi.

Setelah wisuda selesai, karena tak punya relasi, alhasil si anak itu melamar pekerjaan di perusahaan swasta atau bahkan mengikuti tes CPNS sampai akhirnya ia diterima menjadi seorang staff bawahan bagian marketing di sebuah perusahaan swasta.

Akhirnya tibalah sebuah pertemuan keluarga A dan keluarga B.

Dengan bangganya si keluarga B memamerkan prestasi anaknya yang sudah diterima kerja jadi pegawai meskipun hanya lulusan universitas negeri lokal. “Anakku lho, sudah punya gaji 5 juta perbulan, padahal kerjanya hanya duduk di ruangan ber-AC yang nyaman”, kata Ibu keluarga B.

Dengan setengah mengejek, keluarga B mempertanyakan bagaimana nasib anak keluarga A yang sudah dikuliahkan di luar negeri.

Keluarga A hanya senyum-senyum saja sambil mengatakan kalo anak mereka hanya menjadi seorang film maker di San Fransisco. “Anak saya cuma meneruskan hobinya saja, dia belum menghasilkan banyak uang”, kata Ibu keluarga A.

Ibu keluarga B pun makin menjadi-jadi untuk mengejek, “Makannya Bu, buat apa kuliahkan anak di luar negeri!, sudah biayanya mahal eh… anak malah memilih pekerjaan yang ndak mapan alias jadi pengangguran, mana bikin film-film apa itu? Kok ndak jelas gitu sih? Hahahahhahaa!”.

Sebulan kemudian, di pagi hari yang tenang, Ibu keluarga B menonton televisi sambil memantau saldo uangnya yang masih tetap 10M, aman terkendali di rekening tabungan. Ia masih merasa sangat senang bisa mencetak anak yang bisa kerja jadi pegawai dengan modal yang sedikit saja!.

Tayangan di televisi itu menyiarkan gosip artis-artis terkenal hingga membahas film-film yang lagi trending.

“Seorang pemuda Indonesia berhasil menyutradarai sebuah film komedi Amerika yang berhasil meraih keuntungan 10 miliar rupiah! siapakah dia?”, kata presenter memulai kalimat pembuka interview yang menarik perhatian si Ibu keluarga B

Dan terkagetlah kalau ternyata yang di-interview adalah anak dari Keluarga A.

Langsung KESETRUM lah si Ibu keluarga B menyimak interview di televisi itu dan cepat-cepat ia menelepon anaknya, “Nak, seharusnya dulu kamu ngelamar jadi sutradara di amerika saja! Jangan jadi pegawai, gajinya kecil!”

SELESAI ….

Advertisements

2 responses to “Jer Basuki Mawa Beya

  1. Waw, suatu ilustrasi yang kritis dan cukup pedas. Banyak tuh ortu yang seperti keluarga B. Akibatnya anaknya malas kuliah karena jurusannya ndak sesuai passionnya. Semoga makin banyak yang sadar bahwa “money and false prestige is not the ultimate goal; it is just the effect of a hard-fought passion.”

    Liked by 1 person

    • Makasih Pak Patris, iya Pak, semoga orang tua sadar juga kalo pendidikan itu (meskipun mahal) juga salah satu bentuk investasi yang penting. Lagian kalo punya uang banyak jangan terlalu takutlah untuk bersaing, prestige yang paling jos itu ya jadi bisa sukses dengan passion kita sendiri ya Pak hehehe

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s