Cerita Pendek : Meteor 2025

Semua berawal dari sebuah kelas perkuliahan yang khidmat tenang karena semua mahasiswa khusyuk memperhatikan buku materi dan paper. Sungguh pemandangan yang langka dari tahun sebelumnya, karena biasanya kelas perkuliahan selalu dihiasi dengan gadget dan social media yang memecah konsentrasi belajar.

Pergantian presiden di tahun ini memang membawa dampak yang signifikan membosankan untuk para pemuda Indonesia.

Bayangkan saja, Presiden baru Indonesia tahun 2025 itu langsung menyuruh anteknya untuk memblokir Instagram, twitter dan social media kece lainnya di Indonesia. Kebijakan penerapan pelarangan social media impor itu diterapkan untuk menumbuhkan rasa nasionalisme dan menumbuhkan developer app lokal asli indonesia yang sudah berhasil men-develop aplikasi chat-share video sampai e-money payment yang dinamakan aplikasi WA (Wajar Aja).

Sesuai namanya, WA – Wajar Aja adalah aplikasi serupa wechat yang secara tampilannya saja sudah membosankan. Apalagi WA itu isinya cuman video wayang petruk gareng atau uyon uyon tarian tradisional dan kalaupun chat paling pol hanya bisa untuk chat grup keluarga. Di tahun 2025 ini jangan harap ada aplikasi keren macam Tinder untuk menggoda lawan jenis buat tidur bareng.

Sejumlah app virtual private network pun dicekal oleh pemerintah dengan senjata tentara siber indonesia.

Satu-satunya hiburan pemuda Indonesia di tahun 2025 ini adalah sebuah koran harian bernama “Lambe Turah” yang berisi infotainment yang dikontrol sepenuhnya oleh pemerintah.

Kembali kedalam kelas perkuliahan. Kekusyukan belajar itu tiba-tiba terpecah oleh Pak Dosen yang mendadak menerima telepon didalam kelas perkuliahan. Dengan gelagat panik, sang dosen menutup sambungan telepon itu. Lalu dengan penuh khidmat, ia menyampaikan perbincangan rahasia negara didalam telepon kepada para mahasiswa yang ada didalam kelas itu.

“Ada meteor nyeleneh dari galaksi hore-hore yang akan menghantam bumi besok jumat”, kata Pak dosen serius

Sontak suasana kelas menjadi gaduh, ada yang tak percaya dan tertawa tapi ada juga yang menanggapi Pak Dosen dengan serius, “Hah? Serius? Meteor apa Pak?”

Pak dosen pun mengambil sesuatu dari dalam tas kulitnya yang necis yang ternyata sebuah pistol dan dengan cepat ia menodongkan pistol itu di kepalanya sendiri, terlihat jelas kalau ia mau menembak dirinya sendiri. Ya! Dia mau bunuh diri dengan menyampaikan sebuah pesan, “Selamatkan diri kalian, silahkan sebarkan rahasia negara dari handphone ini kepada saudara kalian ke seluruh Indonesia. Dunia Internasional sudah mengetahui bencana ini dari seminggu yang lalu. Pemerintah kita sudah menutup-nutupi kebenaran. Semoga kalian beruntung!”

“DYAAARRRRR!!!”, suara ledakan pistol itu terdengar keras langsung memukul jatuh sang dosen gelimpang di lantai dengan darah yang mengucur deras. Suara ledakan itu begitu cepat dan begitu keras, namun kalah keras dengan teriakan shock mahasiswa di ruang kelas itu.

Ada mahasiswa yang diam, menangis ketakutan dan ada yang berlarian ke arah meja Pak Dosen, melihat dokumen rahasia negara yang tadi sudah diperlihatkan dari gadgetnya.

Salah satu yang berlarian ke arah meja dosen itu adalah Anggi, seorang mahasiswi yang dikenal tomboy dan berani. Keberanian itu ia tunjukkan dengan membaca dokumen rahasia negara itu dengan lantang kepada teman-temannya.

Diketahui sejak 5 tahun yang lalu NASA sudah mengawasi meteor ini dan diperkirakan tidak akan melintas Bumi. Diperkirakan melintas pun tidak, apalagi menubruk Bumi.

Tapi yang aneh, semenjak sebulan yang lalu meteor ini berubah arah akibat mengalami benturan kecil dengan komet dan NASA baru menyadari hal ini dua minggu yang lalu. Lagipula ekspedisi dan koloni manusia di Mars sangat menyita perhatian dunia dan fokus para ilmuwan antariksa.

NASA sudah mengeluarkan peringatan kepada PBB sekitar seminggu yang lalu. Namun untuk menghindari kepanikan masal jangan beritahu berita ini kepada siapapun. Kalau anda hidup dan bertahan setelah bencana ini, kibarkan selalu sang merah putih ditengah kehancuran, ceritakan pada semua orang betapa hebatnya negara ini.

Demikian saya sampaikan, semoga langit yang mendung dan hujan lebat di bulan desember ini mententramkan jalan kita menuju surga.

Perlahan isi kelas itu mulai sepi, hanyut dalam untaian kata mengancam tapi dikemas dengan indah.

Tapi Anggi tak tinggal diam, ia langsung meng-share nya melalui WA ke seluruh mahasiswa di kampus itu melalui grup WA prodi, grup fakultas sampai grup WA keluarga yang semula isinya tentang doorprize Umroh menjadi serius membahas meteor

Banyak mahasiswa yang berhamburan keluar gedung menuju parkiran untuk menatap langit. Tapi apa daya, cuaca hari itu sedang hujan lebat.

Begitu juga dengan Anggi yang tergopoh berlari menarik tas dan menuju kantin, nyamperin si Dimas, sahabatnya yang pasti lagi asik merokok di lapak soto sapi.

“Eh Dimas, lu udah denger belum ada meteor mau nubruk bumi?”, kata Anggi ngos-ngosan setelah berlari

“Hahaha Meteor apaan? Meteor garden?”, kata Dimas heran melihat Anggi ngos-ngosan panik seperti setan

“Nih! Baca!”, kata Anggi memberikan gadget nya kepada Dimas

Dimas langsung membaca, dokumen rahasia itu, yang intinya “Besok Jumat, sebuah meteor besar akan menubruk Bumi”

“Hah seriuss? HOAX nih!”, kata Dimas ngebacot sendirian baca berita dan melihat lingkungan sekitar

“Gimanaa dong?”, tanya Anggi panik, melihat lingkungan kampus yang sudah mulai gaduh, banyak orang di area kampus itu yang berlarian, termenung, nangis sedih dan bingung.

Setelah membaca berita itu, raut wajah Dimas seketika berubah jelek kaya habis diputusin mantan.

“ih kayanya gue mesti balik deh nggi”, kata Dimas dengan raut wajah ndak karuan

“Lah udah ga bisa balik! Gue juga ga bisa balik ke Manado nih!”

“Lah kenapa?”, tanya Dimas polos

“Akses pelabuhan-airport udah ditutup, penerbangan juga udah ngga ada, semuanya diambil alih buat kepentingan militer”

“Hahh? Gila lo!”, kata Dimas dengan raut wajah absurd

“Terus gimana?”, tanya Anggi panik, kakinya bergetar kaya orang kebelet pipis

“Hmmm, gimana kalo lu ikut gue pulang!”, kata Dimas panik kehabisan akal sehat

“Kemana? Ke pontianak?”

“Iya!”

“Naik apa monyet? semua airport udah ditutup, lu mau naik odong-odong ke kalimantan?”

“Duhh mati aku!, yaudah sekarang gimana?”

“ih malah balik nanya! Ya ampun lu gimana sih!”, kata Anggi semakin kesal dengan Dimas yang ikutan bingung.

Baru saja setengah jam, infomasi meteor itu menjadi viral di grup-grup WA. Akibatnya keadaan sekitar kampus semakin chaos, bahkan mulai ada warga sekitar kampus yang menjarah kursi, menyolong mobil ataupun merobohkan pilar-pilar dinding kampus yang bisa dijadikan tameng yang sekiranya bisa melindungi mereka dari pecahan meteor.

Satu jam kemudian informasi itu mulai disiarkan di TV. Sebelumnya pemerintah sengaja menyembunyikan berita itu untuk menghindari kepanikan masal. Bahkan selama sebulan ini, bidang pemerintah bagian informasi dan telekomunikasi pun selalu berkilah dan menuduh berita meteor itu adalah berita HOAX.

Sudah selayaknya di Indonesia, di keadaan genting seperti ini banyak politikus saling berebut untuk berbicara di TV dan berkomentar macam-macam yang justru menambah kekacauan di berbagai daerah.

Anggi yang bingung akhirnya ikut Dimas kembali ke rumah kontrakan. Didalam rumah mereka berdua kayak orang lagi sakaw. Bingung mesti kemana, badan merinding bergetar, nafsu makan pun tidak ada. Mereka sedari tadi cuma bisa menelepon keluarga masing-masing yang malah justru menambah sedih mereka.

“Maafkan Papa ya nak, Papa gagal melindungi kamu, ini semua karena koran lambe turah dan foto ariel tatum yang terlalu menyita semua perhatian Papa. Seharusnya Papa mantengin beritanya NASA aja, maafin Papa ya…maafin”, begitulah kata Papa nya Anggi menangis hebat didalam telepon

Begitu pula dengan Dimas yang malah dimarahin Mamanya, “Mama merasa gagal mendidik kamu sebagai Pria! Gimana sih kamu? Udah Mahasiswa kok ga kritis baca situasi? Kamu goblok atau gimana? Sekarang terserah kamu deh”.

Kesedihan itu semakin menjadi-jadi ketika seorang ahli survival berbicara di TV tentang seberapa potensi kerusakan hantaman Meteor itu. “Melindungi rumah akan percuma, karena diperkirakan meteor itu akan menbentur permukaan bumi dengan keras, hingga terpecah bagaikan peluru panas yang meneror seisi planet”.

Ditengah keadaan yang bingung setengah kesal, naluri pria Dimas pun berkata, “Oke kayanya kita harus ngumpulin persediaan makanan deh! Kita harus bisa survive dalam keadaan apapun”

“Hmmmm?”, respon Anggi masih nangis sesenggukan

Dimas mengambil tas ransel dan kunci mobil, “Ayok ikut gue!”

Pergilah Dimas dan Anggi ke pasar terdekat untuk membeli sayur mayur dan buah-buahan.

Baru saja tiga jam setelah informasi meteor itu beredar keadaan jalanan sudah chaos. Di sudut-sudut pinggir jalan terdengar suara tembakan, ledakan bahkan orang-orang berteriak kencang karena uang sudah tidak bernilai lagi.

Banyak gerakan separatis, preman dan gangster penjarah mencoba mengambil alih kekuasaan pemerintah.

Sesampainya di pasar, keadaan tak jauh berbeda. Semua orang di pasar, sudah saling berebut bahan makanan.

Hukum alam pun berlaku, Siapa kuat dia dapat! Pokoknya semua orang sibuk menyelamatkan hidupnya masing-masing.

“Habis ini kita ke dodomart yuk!”

“Ngapain? Ini buah juga udah cukup kali buat persediaan sebulan!”, kata Dimas memegang erat tangan Anggi ditengah keadaan pasar yang kacau

“Kepengen ambil indomie gue!”

“Ya ampuuun, lu udah mau kiamat masih aja inget micin!”

Akhirnya mampirlah mereka berdua ke dodomart. Dengan tergopoh-gopoh setengah ketakutan menghindari tembakan preman, mereka berdua memasuki dodomart yang pintunya sudah copot karena habis dijarah

“Gue ambil es krim yaa”, kata Anggi polos, memasukkan es krim itu satu persatu kedalam kantong plastik

“Ah udaaahh ambil aja semuanyaa!”, kata Dimas sambil menyeret lemari es tempat es krim itu keluar menuju mobil

Tindakan Dimas itu menumbuhkan naluri barbar si Anggi, “Oke! gimana kalo habis ini kita ke mall atau ke toko olahraga?, kita jarah semua barang buat emergency

Dengan kecepatan penuh Dimas memacu mesin mobil diesel berturbo yang siap menabrak mobil-mobil preman sinting yang mulai menembaki orang tanpa sebab.

Dengan manuver gesit, mereka berdua ke toko olahraga terdekat, menjarah semua pakaian tebal, sepatu boot, pokoknya semua barang yang bisa dipakai untuk bertahan hidup!

Bahkan peralatan menyelam dan tabung oksigen lengkap pun diembat habis oleh Dimas.

Hingga malam hari mereka kembali ke kontrakan. Menyegel pintu gerbang dan kemudian menulisi gerbang dengan papan tulisan “MILIK PRIBUMI”, hahaha lu kata kerusuhan 98?

Tapi begitulah adanya. Saking paniknya tetangga kontrakan Dimas yang terkenal jujur pun menulisi pintu gerbangnya yang sudah rusak dengan tulisan, “Milik Koh Afuk”. Maka dijarah habis lah rumah koh Afuk itu.

Menyikapi hal itu Dimas langsung mematikan lampu komplek perumahan serta memblokir pintu masuk komplek dengan bambu-bambu dan kursi-kursi tetangganya yang sudah lari entah kemana.

Malam itu kesedihan seperti tertutupi oleh semua kemewahan yang mereka punya. Ada ratusan kemasan es krim hasil jarahan.

Meskipun begitu, mereka berdua tetap berusaha berdiskusi. “Kayanya kita bakalan mati disini deh!”, kata Dimas sambil menyimak berita di TV

“Coba deh gue googling, siapa tau ada bunker anti bencana di kota ini”

“Ah … Ngapain, udah telat!”

“Kalo gitu, gimana kalo kita habisin semua es krim ini, trus kita bunuh diri?”, kata Anggi menantang

“Gila lu!”

“Lhah daripada mati kesakitan? Lu emang mau, kesakitan ketiban batu meteor panas?”

“gue mending mati mengenaskan daripada mati karena bunuh diri, kek pecundang aja!”, kata Dimas balik menantang

“Terus kita nunggu mati doang dong disini? Ga ada usaha?”, tanya Anggi datar menikmati sendok demi sendok es krim jarahan

“Ya iyalah, mau gimana lagi? kita semua mati disini”, kata Dimas lalu fokus menonton TV yang isinya bermacam siraman rohani sampai tayangan ulang berita-berita nasional.

Keadaan menyedihkan itu didukung dengan stasiun televisi yang lebih memilih menyiarkan acara rohani atau tembang kenangan untuk menenangkan umat yang sudah bingung.

Anggi tidak menyerah memulai topik pembicaraan untuk menyayat kesedihan itu semakin menjadi-jadi, “Kalo lu 3 hari lagi meninggal, seharusnya apa yang lu lakuin?”

“Hmmm, apa yaa, berdoa mungkin?”

“Lhah bukannya lu agnostik?”

“Emangnya orang agnostik ga boleh berdoa?”, tanya Dimas

“Tapi kan kita bisa akrab gegara lu ngeganggu gue pas semester satu, inget ga?”

“Hahaha matkul agama kan? Good old days

Lalu perbincangan semakin mendalam, semua orang yang akan meninggal pastilah mendadak bijak dan membahas segala hal dalam kacamata filosofis. Tayangan TV juga sudah mulai berisi tangisan-tangisan ceramah pemuka agama.

“Eh kira-kira si ustad ini bener ga ya?”, tanya Anggi melihat tayangan rohani di televisi

“Gue kira manusia itu ga ada yang salah, tapi ga ada yang bener juga, kita sama-sama ngga tahu apa-apa”

“Hmmm kalo gitu, menurut lu, semua yang di kitab itu bener ga?”

“Menurut gue ada beberapa hal yang bener, salah satunya tentang hari kiamat”

“Hmmm iya sih, dulu gue selalu mikir kalo yang terburuk dari hari kiamat adalah tidak pernah datang. Dan… sekarang hari itu tiba tepat disaat kita hidup”, sambung Anggi semakin menahan tangis yang ia tahan didalam hati sedari tadi dan tangis itu sekarang semakin pecah

Dimas hanya terdiam mendengarkan pecah tangis Anggi yang memecah keheningan di kamar itu. Tapi sebagai seorang pria, Dimas ingin sekali mengatakan sesuatu yang optimis untuk menenangkan Anggi, “Eh… tapi darimana kia tahu kalo besok adalah hari kiamat itu? Darimana kita tahu kalo hari ini adalah hari kiamat yang kitab-kitab itu ramalkan? Bisa aja ini semua hanyalah bencana biasa”

“Seandainya ada mesin waktu, coba dua hari yang lalu gue bisa pulang kampung, setidaknya gue bisa kumpul bareng keluarga”, sambung Anggi masih menangis tak terkontrol, omongannya pun kian mengigau

Dimas pun kuasa menahan kesedihan didalam hati, dan sedikit air mata pun jatuh juga di pelupuk matanya, tapi Dimas tetap berusaha tegar dengan mengatakan hal-hal konyol, “Ya udah yuk kita bikin mesin waktu !!!”

“Hahaha gue tau lu mau ngehibur gue, tapi jokes lu garing sumpah!”, kata Anggi

“hahahaha”, mereka berdua tertawa dengan air mata yang masih mengucur sedih berusaha menangkis kenyataan kalau keadaan diluar komplek perumahan sudah chaos, bunyi-bunyian ledakan dan pecahan kaca mulai terdengar samar-samar dari dalam kamar.

“Kita bikin mesin waktu pake es balok, kita awetin badan kita didalam es!”, kata Anggi semakin tak waras untuk memecah keheningan

“Ah kebanyakan makan es lu nggi!”,

“Yaa siapa tahu berhasil? Bangun-bangun kita udah ada dimasa depan!”, kata Anggi

“Ah apa sih nggi?, ga lucu ah”, kata Dimas makin sedih

“Menurut gue masuk akal lhoh, coba gue googling pabrik balok es deket sini”

Lalu Anggi terus menerus menjelaskan teorinya, dari mulai teori pembalsaman mumi mesir sampai membicarakan laboratorium gereja sekte hidup abadi yang berupa kulkas raksasa yang pernah ia tonton di Vice.

“Terus? Kalo kita diawetin kedalam es, kan butuh orang lain untuk masukin kita kedalam kulkas, emang ada yang mau bantuin kita? Mana ada yang percaya? Kek orang sinting aja njir”, kata Dimas menggerutu sambil menegaskan kalau dirinya masih waras

“Gampang, kita rendam tubuh kita sendiri didalam pabrik es dan selama proses pembekuan kita bernapas pake alat menyelam dan oksigen yang tadi lu jarah aja”

“Hmm…. Eh tapi kalo misalnya mati listrik gimana? Kan proses pembekuan kita menjadi es itu butuh listrik?”

“Kita siapin genset lah”, kata Anggi yang idenya semakin ga masuk akal, entah karena putus asa atau kepengen bunuh diri

“Lah lagian emang lu kuat pas proses pembekuan jadi es itu kan dingin banget! Badan kita bakalan kesakitan nggi!”

“Ya tinggal pake baju penyelam anti dingin itulah, sekarang lu pilih, mending kesakitan kepanasan kena meteor atau mending kedinginan tapi lu tetep hidup?”

“Alah udah deh nggi, lagian kalo kita jadi es, resiko kematian kita juga tetep tinggi kok”

“Ya gapapa mati, yang penting ga liat orang-orang di sekitar kita lari berhamburan mati kesakitan badannya bolong-bolong kena meteor!”

“Ah… Capek gue nggi!”, kata Dimas mencoba tidur

Tapi Anggi terus berpikir dengan perasaan yang campur aduk. Bayangkan saja, manusia mana yang tidak bingung menyikapi 48 jam sebelum ajalnya?

Dan pagi yang sedikit mendung pun datang, tinggal tersisa waktu 40 jam sebelum meteor itu memasuki atmosfer bumi.

Dimas melongok kearah balkon rumah, mencoba melihat meteor itu diatas langit yang mendung. Perlahan meteor itu memang nampak, sudah segede kerupuk besar yang menutupi masuknya sinar matahari. Dimas semakin takut, kepalanya pusing dan ia kembali kedalam kamar dan langsung berkata kepada Anggi, “Kayanya ide lu boleh juga nggi!”

“Oke kita ke pabrik es sekarang!”, kata Anggi mengemas pakaian menyelam, selang pernapasan sampai tabung oksigen yang kemarin mereka jarah di toko

****

Pintu pabrik es itu tertutup rapat, tapi berkat rasa takut akan ajal yang mengenaskan, dua sahabat berhasil menjebol pintu pabrik dengan menabrakan mobil pada kecepatan tinggi. “BRAKKK!”. Kaca mobil depan pecah, dashboard remuk, untung ada airbag yang langsung mengembang melindungi kepala Dimas dari benturan.

Setelah pintu terbuka sempurna, mereka memasukkan mobil dan menyembunyikan semua jejak kaki termasuk menutup rapat pintu pabrik itu. Tidak ada yang bisa menghalangi semangat muda dan mudi usia 20 tahunan untuk terus hidup di dunia ini!

Lalu mereka berdua menyiapkan genset bermesin diesel dan menguras habis solar dari tangki mobil.

Listrik sudah mulai byar-pet. Kadang listrik hidup, kadang juga padam. “Nih lu liat, listrik aja udah enggan hidup!”, kata Dimas polos

“Udah jangan banyak bacot, kita cuma punya waktu 15 jam lagi nih”, kata Anggi mengangkat tabung-tabung oksigen itu sembari terus memperhatikan waktu dari jam tangannya

Setelah semuanya selesai dan siap untuk melakukan operasi pembekuan, tinggal tersisa 10 jam lagi.

Anggi dan Dimas sudah berkostum bak astronot yang akan menyelam. Genset sedari tadi sudah menyala lancar, aliran oksigen lancar berhembus melalui selang. Langkah selanjutnya adalah menelan dua pil obat tidur manjur yang efeknya langsung terasa. Secara tak sadar, mereka berdua siap untuk bunuh diri, atau bisa jadi cuma mati suri.

“Oke!”, kata Anggi dengan tatapan sedih tapi berusaha tegar

“Okee, sampai jumpa di masa depan nggi, thank you udah mau jadi sahabat gue”, kata Dimas

“Iya Dim! Inget seberapapun dinginnya es, kita harus tetap bertahan!”, menangkis moment dramatis itu dengan menjadi orang yang sok realis

“Oke siapa takut”, kata Dimas menegapkan tubuh untuk memberikan kesan yakin

Akhirnya mereka menuangkan air penuh kedalam dua peti yang berukuran standar produk balok es pabrik. Lalu masing-masing menjeburkan diri kedalam peti loyang cetakan es itu, menutup cetakan itu dan menidurkan diri dengan terus mengkonsumsi oksigen dari selang tabung.

Mereka berdua mencoba tidur, dan memang karena berharap ingin mati tanpa rasa sakit, mereka berharap itulah tidur terakhir mereka, menangkis harapan mereka akan hidup setelah serangan meteor.

8 jam setelahnya terjadi gempa hebat, kebakaran dahsyat sampai hujaman serpihan-serpihan meteor yang bergesekan dengan atmosfer bumi

Ratusan ribu rumah terkena hujan meteor, atapnya bolong, ada yang langsung terkena hujaman meteor dan langsung mati tapi ada juga yang mati karena panik kekurangan oksigen mengalami kejang kejang epilepsi dengan siraman meteor yang menggerogoti tubuh.

Pohon-pohon ambruk terbakar, sebagaian masih kuat bertahan. Sungai-sungai seakan diguyur lahar panas, peluru-peluru meteor itu tak mempan terguyur hujan ataupun terkena air sungai.

Serpihan-serpihan panas meteor itu menembus tanah dengan kecepatan tinggi, JLEB-JLEB, bahkan bunker beton sekalipun dihujam habis beserta orang-orang didalamnya. Apalagi pabrik es kecil yang beratapkan seng itu, langsung habis dihujam meteor bertubi-tubi, begitu juga dengan “mesin waktu” yang dibuat oleh Anggi dan Dimas.

Meskipun begitu, mereka berdua berhasil menembus waktu, kembali ke masa lalu, mengakses semua kenangan-kenangan indah maupun kenangan-kenangan buruk melalui hippocampus otak, itupun paling cuma beberapa puluh jam sebelum bagian otak itu membusuk. Tapi upsss… kemudian pecahan meteor panas yang lumayan besar menghantam dan menghancurkan bagian kepala mereka berdua yang juga menghancurkan semua kenangan buruk dan manis mereka berdua dari dunia ini.

Kadang sebuah peristiwa buruk memang memaksa kita semua untuk percaya dengan adanya surga.

Semoga langit yang mendung dan hujan lebat di bulan desember ini mententramkan jalan kita menuju surga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s