Apel Malam dan Pengalaman Spiritual

Menjemput lawan jenis yang kita sukai atau dalam bahasa ibrani disebut “Gebetan”, memang sesuatu yang mendebarkan. Konon katanya, seorang pria akan terus mengingat selama seumur hidup tentang moment pertama kali menjemput pujaan hatinya itu. Kecuali kalo si pria itu playboy atau tukang ojek yang sudah kebal menjemput seseorang.

Maka dari itu, post ini saya dedikasikan kepada seluruh tukang ojek di West Virginia, North Carolina hingga South Yogyakarta. Ah sudah tak usahlah banyak bacot, mari saya ceritakeun :

Jadi ceritanya malam itu hujan gerimis, saya sudah janjian dengan seorang teman wanita untuk nonton bareng film Jin dan Jun di bioskop. Oh iya teman wanita yang spesial itu bernama Marsha, bukan Komeng.

Namun selain hujan, rintangan yang lain adalah lokasi rumahnya Marsha yang berada di Jogja Utara sekitar jalan Kaliurang km 16, lumayan jauh dari kota. Apalagi tadi malem ada headline berita menyeramkan di koran yang tulisannya begini :

Nah serem juga kan? Singkat cerita akhirnya malam yang hujan gerimis itu aku nekat tetep ngejemput Marsha di rumahnya.

“Dari perempatan itu kamu belok kiri aja, ntar ada jalan masuk trus kanan jalan ada rumah nomor 23”, balas Marsha dalam text

Sampai di depan rumahnya, aku berniat untuk mencet bell pintu pagar besi berlapis kayu yang tingginya sekitar 5 meter, setinggi pagar penjara Guantanamo Bay.
“Ah mungkin karena letak rumahnya yang berada di pinggir jalan besar, keamanan jadi isu yang utama”, batinku.

Begitu aku mencet semacam electric bell pagar itu, ada suara “PROTT PROTT” yang keras banget, karena makin penasaran pengen ngedenger suara bell itu lagi, akhirnya aku pencet lagi tuh bell !.

Eh suaranya tetep sama, “PROTT PROTT”.

“Wah kok suara bell-nya aneh banget ya?”, batinku dalam hati, terus aku pencet lagi, eh… lha kok suaranya makin aneh, kali ini lebih berat dan lebih panjang

BROTT BROTT BROTT

Abis itu aku nyium bau aneh, kaya bau gas elpiji bocor gitu,

eh … tiba-tiba dari belakang, ada yang nepuk pundakku cukup keras, aku langsung refleks buat balik badan dan melihat sesosok pria tinggi besar, dia bawa tongkat warna hitam, pake kemeja warna putih dan celana panjang kain berwarna hitam.

“Ada perlu apa kamu datang kemari?”, katanya lantang tatapannya tajam lalu dia menepuk pundakku lumayan keras

“Mmmhhh anu pak …”, kataku menjawab kaget, masih melihat orang itu dari bawah sampai atas dan aku membaca sebuah badge nama di bajunya, badge nama itu bertuliskan “Mukhlis”.

Habis baca badge nama itu aku langsung lega, “Oh Mukhlis, kalo Mukhlis pasti satpam”, kataku dalam hati

“Heh!!! Ada perlu apa kamu kemari?”, tanyanya, mengulang pertanyaan yang sama, tapi kali ini dia melotot tajam

“Ehh… ini Pak nuwun sewu, ini bener rumahnya Marsha ya Pak?”, tanyaku santai, karena ia bernama Mukhlis
“Kamu tau darimana kalo ini rumahnya Marsha?”, tanyanya menantang

“Ya kan sa..ya…jan..ji…an”, jawabku terbata-bata karena melihat Mukhlis ingin langsung memotong jawabanku

“Pasti kamu stalking dari pesbuk ya?”, tanya Mukhlis galak, aku hanya menggeleng-gelengkan kepala

“Pasti kamu nyapu-nyapu di tinder ya?”, tanyanya lagi

“Hah? nyapu-nyapu Pak?”, jawabku bingung

“Kamu suka Tinderloin atau Sirloin? Jangan diajak main, nanti bunting!”, kata Mukhlis lagi, kali ini lebih berirama seperti pantun dan rap ndak jelas

“Hah?”, jawabku melongo bingung, ini orang muncul entah darimana, eh dateng-dateng marahin orang ndak jelas

Lalu ia menyambung, nada bicaranya mendadak bijak, “Kaya ada kenalan saya tuh, Sari si anak Pak RT, dia bunting karena sukanya berduaan sama laki-laki di dalam kamar”,

“Hah? Oh”, jawabku bingung harus berkomentar apa

Lalu Mukhlis ngelanjutin, “Sering saya bilangin, saya ingetin, Sariii … jangan suka berduaan ama laki-laki di dalam kamar, bahaya buat perempuan!”

Terus si Mukhlis ngejelasin lagi, “Terus apa dia bilang?, ‘Ya saya kan harus berduaan sama laki saya didalam kamar, saya kan harus melayani suami’. Haduh Sari … Sari … udah menikah tapi masih badung …”

Hah? Aku cuma bisa melongo bengong, ini siapa sih? Dateng-dateng marahin orang, ngomongin Sari anak Pak RT apalah itu? Hih! Kalo jadi Nabi, itu orang udah membingungkan umat deh kayanya!

Terus tiba-tiba dari dalam pintu pagar tinggi itu, terdengar suara gembok yang dibuka, terdengar dari benturan tembaga gembok itu ke besi pagar. Aku langsung berbalik badan, penasaran, siapa yang membuka gembok pintu itu …

“Papa, dia temenku!”, terdengar suara seorang wanita yang kukenali, oh ternyata Marsha dan aku telat menyadari satu hal! Ternyata si Mukhlis kampret itu Papanya Marsha …

Aku langsung refleks nyalamin si Mukhlis, “Oh ternyata om.. Papanya Mukhlis ya? Eh …papanya Marsha ya?”

Si Mukhlis pun menyahut melihat Marsha mengenaliku, “Oh ini yang tempo hari ngehamilin si Sari?”, sahut Mukhlis sambil bersalaman denganku

“Bukan Pah!, dia ini temenku, kita udah janjian mau jalan-jalan!”, jawab Marsha sabar

“Ahhh… ya udah deh, ajakin masuk!, Papa jadi pusing!, anak jaman sekarang rumit bener!”, respon si Mukhlis masa bodoh

“Hah???”, aku bengong cukup lama sebelum masuk melewati pagar rumahnya.

Melihat aku yang bengong, Marsha langsung memberi respon, “Kamu kenapa?”

“Ehhhh engga, ga papa”, jawabku masih bingung

Begitu aku memasuki gerbang itu, didepan teras ada sebuah kolam ikan, nah diantara kolam itu ada banyak patung, diantaranya patung Budha, patung Dewi Kwam Im serta ada sebuah Pura lengkap dengan dupa yang dibakar dan sesajen buah-buahan yang disajikan.

Suasana begitu berbeda ketika aku mencopot sepatu dan melangkahkan kaki kedalam ruang tamu, di dekat pintu ada sebuah patung unta dengan ornamen hiasan timur tengah dan lukisan putri mesir yang kukira adalah putri Amon-Ra, tapi begitu aku melangkah untuk menuju sofa rumah itu, aku melihat pohon natal beserta hiasan-hiasan yang melingkupinya, seperti lukisan Santa Claus

“Luar biasa, mungkin yang punya rumah ini memeluk semua agama”, batinku dalam hati dan terheran-heran. Tapi setelah kuresapi, moment bertemu dengan Mukhlis adalah pengalaman mistis, masuk kedalam rumahnya bagaikan pengalaman spiritual …

Lalu Marsha memecah lamunanku, “Eh tunggu bentar ya aku ambil tas dulu, ntar langsung aja yuk, keburu kemaleman”

“Okeee”, kataku datar sambil terus mengamati lukisan-lukisan di ruang tamu

****

“Kamu suka kopi?”, tanya si Mukhlis di ruang tamu, hanya ada kami di ruang tamu, duduk berhadap-hadapan di antara dua sofa yang dipisah oleh meja tamu yang panjang dan aku menyadari kalau aku terjebak dengan orang aneh yang bernama Mukhlis.

“Errgghh.. ngga usah repot-repot om, kebetulan saya ngga bisa minum kopi”, jawabku ragu tapi mencoba sopan

Si Mukhlis pun bingung, sejenak dua bola matanya berputar melihat ke arah plafon, “Kalo ga suka kopi berarti kamu ga suka dangdut dong?”

Duh ini orang kaga jelas amat dah tujuan hidupnya, iya-iya-in aja deh ya, “Iya om”, balasku

Lalu si Mukhlis itu pergi kebelakang, sepertinya dia menuju dapur, ngebikinin aku minuman.

Baru saja aku duduk sebentar di sofa itu, samar-samar terdengar suara musik, suara lagu etnik, lagu etnik batak, aku tahu itu karena aku tahu gimana suara taganing, salah satu alat musik batak toba.

Lalu secara mengejutkan si Mukhlis datang dari balik pintu masuk ruang tamu

“Ini dia, tuak medan!”, kata Mukhlis mengagetkan

“Busset, ini orang dateng dari alam mana sih?”, batinku

“Ehhh iya om makasih …”, jawabku bingung masih melihat rupa minuman yang mirip seperti adonan semen putih

“Bercanda deng, itu cuman sirup sirsak”, jawab Mukhlis aneh, lalu alunan suara taganing itu samar-samar berubah menjadi alunan gendhing jawa.

Beruntunglah Marsha segera menyusul ke ruang tamu, setidaknya sebelum aku mati, kusuruh dia mendaftarkanku ke program asuransi jiwa terbaik karena jantungku dari tadi sudah berdegup hebat melihat kelakuan si Mukhlis.

Tapi biar bagaimanapun, kalo kamu bertamu ke rumah orang, pintar-pintarlah mencairkan suasana, walaupun yang punya rumah wujudnya kaya Jin kelewat batas seperti Mukhlis,

“Eh iya om, ngomong-ngomong saya jadi penasaran, kira-kira siapa ya yang ngehamilin anak Pak RT?”, tanyaku memulai pembicaraan

“Ya suaminya lah, ya kan Pa?”, komentar Marsha datar

“Kalo Papa sih berpendapat lain, karena si Sari anak Pak RT itu demen mijitin laki orang”, respon Mukhlis serius menganalisis

“Oh gitu ya om?”, komentarku berlagak antusias padahal mah BODO AMAT KLIS MUKHLIS! HA!

“Iya! Sering saya bilangin, saya ingetin, Sariii … jangan suka mijitin laki orang, bahaya buat perempuan!”, oceh si Mukhlis, aku masih terdiam
Terus si Mukhlis ngejelasin lagi,

“Terus apa dia bilang, ‘Ya saya kan mesti mijitin orang, saya kan kerja jadi therapist di spa. Haduh Sari … Sari …”

Ampun ya Tuhan, makhluk apa sih si Mukhlis ini? Habis dapet wahyu apa dia kok bisa jadi sinting gini ya Tuhan? Udah deh pokoknya aku harus cepet-cepet pamitan sama Mukhlis,

Baru saja aku berpikir begitu, Marsha sudah memulai pembicaraan terlebih dahulu.

“Pa pamit ya”, kata Marsha

“Jangan mijit yang aneh-aneh ya, kamu kan bukan therapist”, kata Mukhlis kepada Marsha

Aku cuman bengong lagi ngga bisa berkata apa-apa …

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s