Standar Penerimaan dan (Rumitnya) Pergaulan

Kata orang-orang, kehidupan sosial dan relasi di jaman sekarang terasa semakin rumit. Sadar atau tidak sadar, ada semacam “standar” untuk berteman dengan sebut saja si A, si B dan si C.

Begitu pula kalau kita melihat kedalam diri kita sendiri. Kita tidak bisa langsung menilai kalau orang ini atau orang itu cocok dengan kita, karena kadang “persona” yang mewujud dalam penampilan dan citra itu kadang menipu. Oleh karena itu, tentu banyak pertimbangan yang dipikirkan sebelum kita melakukan hubungan relasi yang akrab.

Lihat saja para HRD di perusahaan kadang mengecek akun media sosial si pelamar kerja, dengan harapan untuk melihat “bentuk utuh” atau sifat asli dari si pelamar kerja. Karena bisa aja kan profil yang tertera pada CV tidak sesuai dengan kelakuan si pelamar didalam keseheraiannya.

Bisa aja si pelamar nulis di profil, “Saya menyukai gaya manajemen yang egaliter, tidak ada jarak antara atasan dan bawahan. Atasan harus bisa merangkul bawahan agar tercipta sebuah ekosistem kerja yang baik”

Tapi begitu sang HRD ngecek instagram si pelamar, “Waduh bujubuset!, ternyata si pelamar gemar membuat video kekerasan. Jadi waktu dia melakukan nobar alias nonton bareng bola, dia demen banget merekam moment disaat pemain idolanya mencetak gol dan ketika gol berlangsung ia melakukan selebrasi dengan cara menumpahkan kuah bakso dikepala teman sebayanya.

Hal itu tidaklah mencerminkan sebuah sikap yang egaliter. Maka gugurlah pelamar pertama, sang HRD pun menuju ke pelamar kandidat kedua. Didalam profil dia nulis, “Sebagai Bank yang syariah, saya tidak setuju jika pelecehan seksual terjadi didalam lingkungan kerja dan apabila ada salah satu pegawai yang melenceng orientasi seksualnya, maka saya tak segan memberikan peringatan”

Sungguh meyakinkan bukan? Memang kata dan kalimat bisa saja mempengaruhi pikiran bahkan tindakan seseorang. Tapi dijaman sekarang, semuanya bisa dilihat dari track record di internet social media. Apakah si pelamar pernah berkomentar kotor, menghina dan sebagainya bisa saja di track melalui internet social media.

Lalu dengan mantap HRD melihat instagram si pelamar kedua. Kalau disimak feed instagram nya menyimpulkan kalau si pelamar kedua adalah seorang pemuda religius yang sayang kepada orangtua.

Tapi ada dua video yang janggal, pelamar kedua ternyata juga gemar nobar, nonton bola bareng!. Ada dua video tentang selebrasinya ketika ia menyaksikan gol! Didalam videonya, pelamar kedua itu teriak-teriak histeris bareng temen-temennya yang cowok semua, melompat-lompat sampai pelukan erat bareng temennya yang cowok semua itu sambil buka pakaian celana dan kaos demi merayakan euforia gol.

Sang HRD langsung meneguk ludahnya sendiri, matanya masih melotot mengamati akun media sosial pelamar kedua di meja kerjanya, ia berpikir keras, rasanya seperti ada yang salah!!!

Bayangkan, ada sekumpulan pria berteriak histeris melompat lompat kegirangan menyaksikan sekumpulan pria berotot memakai celana pendek ketat dengan pantat yang bergoyang-goyang berlari mengejar bola. Dan anehnya semua pria di cafe itu tak ragu berpelukan erat jika selebrasi terasa begitu hangat.

Nah, dari situ HRD mulai mikir, “Wah kayanya pria yang menyukai bola orientasi seksualnya miring semua deh!”

Akhirnya sang HRD memberikan satu lagi persyaratan bagi para pelamar, yaitu “Pelamar bukanlah orang yang menyukai sepak bola, baik menonton ataupun bermain bola”.

Nah kenyataannya, sadar atau tidak sadar, didalam hubungan sosial, banyak orang menerapkan persyaratan-persyaratan macam itu sebagai dinding pembatas kita dalam bergaul atau membangun relasi.

Misalnya kamu bisa saja tidak menerima temanmu lagi setelah kamu tahu kalau temanmu itu ternyata pecandu narkoba. Atau bisa juga kamu tidak diterima lagi di dalam lingkaran pergaulanmu karena kamu tidak melakukan lagi hal-hal sama yang mereka suka. Yang perlu digaris bawahi adalah selalu ada standar yang berlaku disetiap tempat dan pergaulan, begitulah rumitnya cara interaksi manusia (jaman sekarang mungkin?).

Tapi jaman dulu (mungkin) keadaan jauh berbeda, coba bayangin, seorang pemuda yang sedang berkelana bisa tiba-tiba jatuh hati dengan mba-mba desa yang sedang mandi di sungai!

Menurutku itu ajaib banget !!, lha coba bayangkan di planet ini kan ada banyak banget perempuan, kok bisa-bisanya itu pemuda pengelana langsung jatuh cinta sama satu orang wanita. Cinta macam apa yang didasari oleh berkat pandangan pertama? Tentu saja cinta yang naif, ngawur dan penuh gairah nafsu.

Tapi (mungkin) wanita adalah mamalia paling cerdas di planet ini. Walaupun menurutku perilaku wanita dari jaman dulu sampai sekarang tidak terlalu banyak mengalami perubahan.

Satu bentuk kecerdasan dan kesamaan antara wanita jaman dulu dan sekarang adalah mereka sama-sama punya banyak standar dan persyaratan bagi para pria untuk bisa mendapatkan hati sang wanita.

Sudah banyak cerita akan hal ini, dari mulai Roro Jonggrang yang minta dibuatkan seribu candi oleh Bandung Bondowoso sampai dengan Mba mba Sosialita kekinian yang minta dibelikan mobil besar beronamen candi yang ternyata mobil bus pariwisata 😂

Jadi kalau digambarkan, sistem penerimaan seorang wanita terhadap pria itu seperti sebuah perusahaan yang punya standar dan persyaratan khusus. Sedangkan pria adalah makhluk pelamar dengan sistem operasi berbasis percaya diri, tidak tahu malu, asal tembak dan selalu disesalkan dengan penolakan atas nama standar dan persyaratan khusus dari seorang wanita.

Tapi ini semua hanyalah analasis ngawur saya, yang bisa saja salah dan bisa saja salah banget hahahaha 😄😄😄

Udah ya…

Ciao 🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s