No Song Without You

Jam sudah menunjukan pukul 12 malam, tak ada rasa risau maupun tidak aman, karena 12 malam masih terhitung sore untuk kota seindah ini.

Langkah kaki kami terdengar lumayan kencang, menuruni tangga restoran setengah bar yang meliuk tajam itu dengan sedikit sempoyongan sambil tertawa.

Tapi kedua kakiku masih terasa kokoh untuk berjalan menyelurusi Malioboro, apalagi dengan sneakers andalanku dan juga sepatu running kekinian yang dipakai Marsha.

Mungkin karena pengaruh minuman ber-alkohol barusan, Marsha jadi mengomel sana-sini dan aku masih sibuk menggombal juga. Suara kami cukup menggelegar menggema menuruni tangga itu, ya masa bodoh juga, lagipula kami adalah pasangan terakhir yang turun dari lantai dua.

Tangga itu menuntun kami turun ke jalan Malioboro, kebanyakan toko sudah tutup, namun suasana masih ramai dengan muda-mudi yang duduk lesehan di angkringan, menikmati minuman sambil menyebul rokok dan terdengar juga suara terbahak-bahak kencang tak karuan.

Aku masih terjebak mendengar omelan Marsha, tapi semenjak turun tangga tadi kami bak sepasang kekasih. Tangannya kugandeng terus, walau bibirnya masih mengoceh sana-sini, apalagi kalau kami membicarakan hal-hal yang kami sukai.

“Eh sha, kamu percaya alien ga?”, tanyaku setelah seabad yang lalu ia mengomel menguasai obrolan
Dia menatapku mungkin kesal karena aku memotong semua omelannya, tapi aku langsung saja merangkul pundaknya bahkan menggelitik perutnya walaupun jelas dia memberontak.

“ih hahahaha mau debat lagi kamu? Hah?”, katanya berusaha kabur memberontak

“Yaiyalah debat, siapa takut?”, kataku dengan dagu mendongak khas caranya menyombongkan diri

Dia tersenyum kecut, mungkin kesal juga tapi nada bicaranya melembut, “Hmmm aku percaya alien, tapi bentuknya kaya apa coba?”

“Jangan-jangan diluar sana ada juga mas dan mba alien yang lagi jalan-jalan setelah kenalan, persis kaya kita gini”, kataku menunjuk jari telunjuk ke atas, kearah langit Malioboro yang mendung

“Ah kamu lebay”, katanya cuek seakan ucapanku hanya angin lalu

“Ya enggalah!”, kataku berbalik menusuk-nusuk perutnya dengan jari telunjuk yang sedari tadi menunjuk keatas langit sampai dia tertawa geli.

“Hahahahaha”, tertawa gelinya pecah sampai orang yang sedang lesehan melihat kearah kami

“Belagu banget sih lu! belagu banget sih lu!”, kataku belum berhenti menusuk-nusuk perutnya, aku juga menirukan gaya bicara nyablak nya yang annoying sampai dia membuat tangannya menyilang, membentuk pertahanan diri.

“Hahaha tapi gimana kalo semua ini hanya kebetulan?”, tawanya masih renyah terasa di kalimat yang diucapkannya

“Kebetulan gimana?”, tanyaku cepat

“Planet ini kebetulan lumayan jauh dari matahari jadi ga terlalu panas dan airnya yang bisa support kehidupan, terus planet ini ada oksigennya bla bla…, kamu sadar ga?”, wajahnya masih tersenyum tapi nada bicara debatnya mulai terasa

“Kalo kehidupan ini semua adalah sebuah kebetulan, kita beruntung banget sih”, responku singkat

Dia menghentikan langkah kakinya, aku yang merangkul pundaknya jadi ikut berhenti juga. Dengan nada yang sama seperti debat sebelumnya, dia berkata, “Ah si bapak ngeles mlulu!, beruntung sih beruntung, meskipun being born is death sentence Pak!, hidup ini beruntung sekaligus celaka at the same time”

“Semua ini udah direncanakan lah sha, bahkan kadang aku curiga! Jangan-jangan kita sebenarnya hidup didalam dunia yang sebenarnya semacam simulasi”

“Hah? We’re probably living in a simulation by Elon Musk kan??”, katanya sinis

“Kamu sadar ga? kalo setiap sore ada burung-burung yang lewat di langit terbang dengan pola yang selalu hampir sama?”, kataku belibet lalu melanjutkan ke perkataan selanjutnya

Marsha hanya meracau ngga jelas lalu menjulurkan lidahnya.
Aku tetap melanjutkan saja argumenku, “Siklus matahari terbit sampai terbenam yang sangat teratur, hujan di bulan November, seluruh benda dialam semesta juga bergerak teratur”

“Hmmm”, responnya datar bibirnya manyun seperti mengejek

“Semua ini kaya udah ada pattern nya, semua ini udah ada polanya, ini…ini semua kaya semacam siklus berulang atau game yang masing-masing role nya udah diatur”

“Yaa itu kan udah ada ilmu-nya Pak, rumus fisika dari dulu juga udah tau”, katanya masih meremehkan

Tetap saja aku menyambar tak gentar!, “Bahkan manusia sendiri punya keteraturan dan siklus yang sama, Ibu-ibu pedagang tiap hari kepasar untuk menghidupi anaknya walaupun penghasilan dari berdagangnya sedikit dia tetep jualan”

Aku melanjutkan lagi, “Gimana dengan tukang becak yang tetap mengayuh becaknya walaupun dia udah tua dan berat untuk mengayuh?, Semua ini pola dan kaya udah ditetapkan gitu deh sha”

Marsha tidak lagi meracau, kali ini dia tenang, mungkin tersentuh. Aku butuh obrolan panjang sampai besok pagi, bukan mengomel meracau sampai pagi.

“Masing-masing kaya punya role gitu ya?”, tanyanya mungkin menyadari ada benarnya juga semua omonganku.

“Nah Iyaa!!! bahkan manusia didalam kehidupan ini kaya udah punya perannya masing-masing, sadar ga sih kita?”, lalu aku melanjutkan

“Coba kamu elaborate lagi tentang siklus-siklus peran tadi!”, katanya cukup tenang

Aku melanjutkan lagi permainan argumen ini, “Nih ya! Apa kamu ga curiga, tiap pagi loper koran lewat depan rumahmu di jam yang sama, terus abis itu tukang bubur lewat depan rumahmu dengan pola ketukan mangkok ‘ting-ting-ting’ yang sama…”

“Semua kaya udah punya pola dan perannya masing-masing. Ada yang jadi figuran dan ada yang jadi pemeran utama, hidup ini tuh kaya game sha”

Dia sedari tadi masih meracau, “hmm gatau yaaa. Tapi kalo ngomongin soal pola, sekarang ‘pola’ apa sih yang ga bisa kita pahami, even bencana alam pun bisa diperkirakan, cuaca badai bisa diperkirakan”

“Nah aku yakin besok ujung-ujungnya manusia udah ga bakal nemuin pola-pola lagi, tapi nemuin sesuatu, nemuin Tuhan”, ocehku

“Bisa jadiii tapi ini ada kaitannya loh sama yang kita omongin di restoran tadi!”, kata Marsha. Kali ini dia antusias.

“Kaitannya yang mana?”,

“Itu loh yang tadi kamu bilang tentang penguasa jahat diktaktor yang hidup abadi!”, kata Marsha dengan pandangan mata cemerlang

“Lah kamu ke situ lagiii”

“Dengerin dulu, kalo manusia berhasil ngebuat dirinya abadi, kamu bakal bayangin ga apa yang akan terjadi?”, kali ini dia mengikuti gaya bicaraku, sok filosofis dengan nada diberat-beratkan

“Apa coba?”, tantangku dengan dagu mendongak keatas

Tapi dia menatapku tajam, dengan berbisik seram dia berkata, “Kalo manusia bisa hidup abadi, kemungkinan manusia akan punya satu proyek besar, proyek untuk mencapai keilahian!”

Entah kenapa ketika ia mengatakan sesuatu yang cerdas kelopak matanya menjadi makin pink. Tapi aku lebih kaget ketika pendapatku dan pendapatnya bisa bertemu di satu titik. Dan aku sangat happy menyambut pendapatnya itu!

“Akhirnya aku sama dia bisa klop!”, kataku dalam hati

Tapi tetap saja kalimat yang kulontarkan jauh lebih antusias ketimbang isi perasaanku, “NAH! Iya kan? At the end manusia bakal nemuin Tuhan”

Mulutku langsung ditutup oleh telapak tangannya, “PUKKK” terdengar keras sampai aku sendiri bisa mendengarnya.

“Eitss aku ga bilang Tuhan loh ya, aku bilangnya keilahian”, katanya masih menutup mulutku, sampai beberapa lama ia baru membuka mulutku

“Yaudah sih, Tuhan sama Keilahian kan sama sha!”, kataku mangkel juga ia punya kuasa untuk menutup mulutku

Tapi dia berkata dengan enteng, “Ah aku lebih suka ini semua masih menjadi misteri, ini semua mistik, belum ada jawabannya”

Semua obrolan kami sebetulnya beruntun, dari satu topik mengembang ke topik lainnya dan selalu ada keterkaitan dari tiap topik itu. Aku memikirkan itu sambil berjalan, aku memikirkan juga harus menyambung dengan obrolan apalagi untuk menyambung ke obrolan berikutnya.

“Dan yang lebih ngeri lagi kehidupan ini semua dibuat sama artificial intelligence sha, semua ini diatur sama kesadaran buatan”, kataku memulai lagi

“Hahahaha absurd sih”

“Jangan-jangan di pentokan alam semesta sono ternyata ada satu komputer besar yang ngatur semuanya”, kataku masih mengoceh

“Wah gila lu, serem sih, eh tapi kamu masih muter di satu teori loh ya”

“Hah??”

“Aku masih tahu banyak teori”, katanya mengundang tanya.

Jadilah kami membicarakan teori-teori absurd di sepanjang jalan malioboro sampai melewati rel Stasiun Tugu Jogja, dan terus mengobrol berjalan menelusuri trotoar pertokoan sampai langkah kami terhenti di depan gapura kampung Ketandan, gapura yang beronamen oriental yang lengkap bertuliskan sebuah kalimat dalam aksara mandarin, mungkin aksara hanyu pinyin.

Kata Marsha itu adalah chinatown, tempat kuliner dan spot foto dengan tema kampung China.

“Wah kampung kamu dong sha”, kataku menepuk punggungnya sok akrab

“ih enak aja!!!”, katanya balas mendorong punggungku

“Eh fotoin aku dong”, kataku menyerahkan handphone ke Marsha, lalu cepat-cepat aku berpose didepan gapura itu.

“Posenya kurang gila”, katanya teriak kearahku

“Oke, tulisan mandarinnya keliatan kan?”, aku langsung mengganti pose bergaya mas-mas yang dikejar ubur-ubur pantai selatan.

“Oke tahan yaa, satu…dua..”, katanya

“Ah kelamaan”, ledekku

“Udah nih dilihat dulu”, dia lari menyerahkan HP

“Hmmm oke bagus juga sha”, kataku

“Eh fotoin aku juga dong, kok bagus ya fotonya !!!”, katanya balik menyerahkan Hpnya kepadaku

Jadilah kami seperti kroco-kroco mumet lainnya, seperti anak-anak muda yang sibuk foto sana-sini. Sudut foto kami mungkin yang terbaik, sampai ada beberapa anak muda yang meniru sudut foto kami

“Eh kita foto bareng yuk sha”, kataku terbawa suasana anak muda yang sedari tadi cekikikan berfoto rame-rame dengan pose-pose aneh

“Malu ih!”, katanya langsung menolak, ia masih menyimak HP melihat hasil-hasil foto tadi

“Udah sebentar aja kok, buat kenang-kenangan”, kataku cepat

“Hmm yaudah”, katanya gengsi masih menyimak HP

Aku langsung menyerahkan HP ke mas-mas yang sedari tadi paling vokal mengarahkan temannya untuk berpose, meminta tolong berkata manis dan dengan sekejap aku dan Marsha langsung berpose canggung, berdiri berdua didepan gapura itu.

“Kurang lepas mbak mas ekspresinya!!!”, teriak mas-mas paling vokal yang memotret foto kami

“Kurang lepas celana atau lepas baju mas?”, tanyaku balik berteriak ke mas-mas yang memotret kami

“Hahaahaha”, terdengar tawa yang sepertinya terpaksa dari mas-mas itu dan juga tawa renyah cekikikan dari gerombolan anak muda yang mencairkan suasana. Kami jadi basa-basi dengan anak muda yang lain, saling membantu memotret satu sama lain. Tapi mereka melanjutkan lagi agenda foto mumet di sudut-sudut kota Jogja yang lain, sedangkan aku dan Marsha masih ingin menikmati Malioboro.

Kalau kamu menanyakan bagaimana Jogja? Aku akan jawab bahwa Jogja sungguh berbeda, dikatakan sebagai Daerah Istimewa itu memang benar adanya. Aku tahu kalau semua kota di Indonesia pada umumnya sama, tapi kamu harus coba Jogja! Beberapa dari kamu mungkin sudah pernah ke Jogja dan merasakan pengalamanmu sendiri, perspektifmu sendiri.

Tapi Jogja dalam pengalamanku tentu berbeda dari pengalamanmu, kucium aroma Jogja yang khas dan lucu. Begitu kamu membuka lebar pendengaranmu, kamu akan mendengar Jogja memakai bahasa daerahnya, kamu mendengar plesetan umpatan-umpatannya. Kamu rasakan sekat dunia modern dan tradisional begitu tipis di Jogja, sehingga kamu bisa mengalami dua dunia itu, seakan membentuk harmoni meluluhkan segala kelas perbedaan.

Semua pengalaman Jogja-Jogja itu sangat disayangkan dibiarkan berlalu tanpa membuat satu-dua kenangan yang bisa disimpan. Kenyataan hidup tentu akan datang dan merusak semua kenangan indah tentang Jogja, tapi sebelum sadar dalam kenyataan hidup, kenapa tidak duduk sejenak, mengobrol dan membuat kenangan?

Iyaaa!!! membuat kenangan!

Aku atau dia mungkin menyadari hal ini, kami duduk di kursi-kursi Malioboro, kursi yang sepertinya dibuat permamen dari beton yang tidak mudah rusak dan hilang. Mungkin sepuluh atau dua puluh tahun lagi kursi itu akan tetap ada disini. Bagi sebagian orang, kursi itu mungkin akan menjadi kenangan yang mungkin tidak mudah rusak dan hilang. Seperti kami yang duduk, mencoba mengobrol dan membuat kenangan.

Dan aku memulai pembicaraan, “Eh gimana sha, obrolan kita garing ga sih?”

“Hmmm engga tuh, emang menurut kamu garing?”, tanyanya malah balik bertanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s