Awkarin Beli Hotel dan Pragmatisme

Ketika Awkarin beli Hotel

Sedangkan saya beli pastel
Rasanya hati seperti jengkel
Jangankan menginap di Novotel
Saya pun tak mampu menyewa Hostel
Mungkin nasibku memang penjaga Wartel


Awkarin! Itulah yang trending di Twitter hari ini 26 Maret 2021.
Pemuda dan pemudi seperti merasa insecure. Membandingkan kesuksesan Awkarin dengan keadaan mereka sendiri.

Apa yang mereka punya di usia 23 tahun? Motor? Mobil? Rumah? atau masih mengejar mimpi?Awkarin yang berusia 23 tahun mampu beli hotel. Pantaskah kita membandingkan usia dengan jumlah uang yang kita punya? Worth it ga kalo kita merasa insecure dengan prestasi Awkarin? Pantaskah kita membandingkan kesuksesan Awkarin dengan keadaan diri kita?

Apakah derajat kehidupan kita ditentukan oleh jumlah uang di rekening, aset yang kita beli dan reputasi karir pekerjaan yang kita miliki?

Sebagian orang pragmatis pasti setuju. Segala yang ada didunia ini harus memiliki manfaat.

Apapun yang kita lakukan, entah itu bekerja, nongkrong bersosialisasi haruslah memiliki manfaat secara praktis.

Contoh : Ketika kita makan, maka kita mendapatkan nutrisi untuk tenaga tubuh kita. Ketika kita bersosialisasi, berteman dengan Orang lain, maka kita mendapatkan relasi yang berguna untuk karir kita kedepannya.

Contoh lagi : ketika kita bekerja, maka kita mendapatkan uang untuk membeli kebutuhan kita, sandang, pangan, papan termasuk hotel. Dan Awkarin pun membeli Hotel. Apakah itu salah? Ini bukan masalah SALAH atau BENAR. Pemikiran pragmatis meninjau berdasarkan manfaat secara praktis.

So, Awkarin beli hotel? Tentu saja Selagi itu bermanfaat, why not? Yakan. Lagipula segala hal yang bermanfaat akan dianggap sebagai yang BENAR dan yang baik.

Dan pantaskah kita membandingkan kesuksesan Awkarin dengan keadaan diri kita? Nah… Tunggu dulu, bagaimana kalo kita berpikir dengan cara seperti ini :

Sebagian dari kalian pasti setuju dong, ketika kita melakukan sesuatu, kita harus mempunyai tujuan dan yang kita lakukan itu bermanfaat untuk kita. Oleh karena itu berpikir pragmatis berarti berpikir praktis.

Ketika kita menghadapi interview pekerjaan misalnya, dan Pak Direktur menanyakan ke kita, “Apa sih tujuan kamu kerja disini?”

Anda mungkin menjawab,
“Ingin mengamalkan ilmu, menambah pengalaman bla bla bla …”

Tapi bagaimana kalo anda menjawab begini : “Saya kerja karena ingin mendapatkan GAJI dan UANG untuk kehidupan”.

Bos manapun pasti suka pegawai yang berpikir praktis, dikasih perintah langsung dijalankan. Disuruh ini itu langsung dilakukan. Konon Berpikir praktis artinya berpikir secara efisien. Dan Efisiensi akan menghasilkan keuntungan, bos mana yang tidak suka dengan keuntungan? Nah!

Bos mana yang suka dengan cara berpikir pegawai yang rumit? Pegawai mbulet, banyak tanya, penuh lika-liku labirin? Tentu saja untuk pekerjaan tertentu seperti analis keuangan, perencanaan dsb, perusahaan butuh orang-orang pemikir. Tapi untuk level pekerja, tentu bos akan menyukai orang-orang praktis

Tapi apakah benar pemikiran pragmatis itu adalah pemikiran yang paling benar?

Tentu saja tidak. Konon dunia ini adalah Yin and Yang, black and white, kita tidak bisa bergantung pada suatu nilai.

Contoh ketika seorang cowok ingin melamar ceweknya dihadapan calon mertua.

Bapak dari pacar menanyakan :
Apa tujuan kamu deketin dan nikahin anak saya?

Lalu kamu menjawab dengan pemikiran pragmatis tadi, “Karena saya ingin kawin om, menyemburkan sperma saya kedalam vagina anak om untuk memenuhi kebutuhan biologis saya. Dan saya ingin melanjutkan keturunan”

Wah! Langsung ditamparlah antum pake nampan teh hangat di meja tamu (kecuali calon mertuamu adalah orang yang praktis)

Orang tua mana yang mau anak putrinya di “gitu gitu” dengan cowok yang kalimat melamarnya saja sudah blak-blakan tanpa tedheng aling-aling!

Meskipun banyak juga sih calon mertua yang suka dengan karakter menantu blak-blakan. Tapi blak-blakan kan ada tempatnya juga, berpikir pragmatis harus tepat sasaran juga.

Oleh karena itu, banyak yang memakai alasan cinta, spiritual, menyempurnakan ajaran agama sebagai alasan untuk menikah.

Oke! Sekarang balik lagi ke topik Awkarin beli Hotel!
Apakah kita harus insecure dengan Awkarin beli hotel?
Kalo jawabannya iya dan kita merasa insecure, maka :

Apakah derajat kebaikan kehidupan kita ditentukan oleh aset yang kita beli dan reputasi karir pekerjaan yang kita miliki? Pantaskah kita membandingkan kesuksesan Awkarin dengan keadaan diri kita?

Apabila mengharapkan jawaban dari pemikiran praktis & pragmatis, mungkin jawabannya : BETUL derajat kehidupan kita ditentukan oleh harta yang kita punya. Tapi membandingkan kesuksesan orang lain dengan keadaan diri kita akan membutuhkan jawaban yang panjang.

Mampu membeli hotel, membeli rumah dan aset properti lainnya akan membuat derajat hidupmu naik. Kamu akan memiliki reputasi, manfaat, keuntungan dan bentuk profit lainnya. Bahkan manfaat itu tidak hanya untukmu saja, anak-anak dan cucumu juga turut merasakannya. Bayangkan kalo kamu punya harta, kamu bisa memperbaiki kehidupanmu, anak-anakmu tidak harus menderita kelaparan. Bahkan kamu bisa membantu orang. Bukankah itu adalah hal yang baik?

Lhah kalo gitu saya yang tidak punya harta bakal terlihat hina dong? Saya terlihat rendah dan tidak punya derajat dong di kehidupan ini?
Balik lagi ke jawaban spiritualitas. Semua Manusia derajatnya sama dihadapan Sang Pencipta. Tapi kalo kamu naik mobil Mercy terbaru, tentu kamu akan dipandang berbeda, setidaknya oleh Security Hotelnya Awkarin *eh 🤭

Ya Udah deh ya, saya ga mau jawab terlalu panjang. Silahkan mencari jawaban dengan pemikiran non pragmatis untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan itu! Wkwkwk

Terimakasih, Dwiki Wijayanto signing off 😁👋

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s